• company.vifxjogja@gmail.com
  • (0274) 2924181
Blog Photo

Harga Emas Naik, Didorong Melemahnya Data Pertumbuhan Ekonomi AS

Harga emas dunia melonjak lebih dari 2% pada Jumat (20/2/2026), didorong data pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) yang lebih lemah dari perkiraan serta meningkatnya ketidakpastian kebijakan tarif. Harga emas spot naik 2,02% dan ditutup di US$ 5.097,07 per ons. Data menunjukkan Produk Domestik Bruto (PDB) AS kuartal IV hanya tumbuh 1,4% (annualized), jauh di bawah proyeksi 2,8%. Perlambatan dipicu penutupan sebagian aktivitas pemerintahan dan melemahnya belanja konsumen. Di sisi lain, inflasi yang tercermin dari indeks PCE naik 0,4% pada Desember, sedikit di atas ekspektasi. Kombinasi perlambatan ekonomi dan inflasi yang masih bertahan dinilai meningkatkan ketidakpastian, sehingga mendorong minat terhadap aset safe haven seperti emas. Pasar juga mencermati langkah Presiden AS Donald Trump yang berencana menerapkan tarif global 10% selama 150 hari, menyusul putusan Mahkamah Agung yang membatalkan kebijakan tarif sebelumnya. Pelaku pasar saat ini masih memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga dua kali tahun ini, dengan potensi pemangkasan pertama pada Juni 2026. Sementara itu, harga perak spot turut melonjak 7,66% ke US$ 84,51 per ons.

Blog Photo

Indeks Dolar AS Menguat Lima Hari Beruntun, Dekati Level Tertinggi Empat Minggu

Dolar AS (USD) menguat pada perdagangan Jumat, dengan Indeks Dolar AS (DXY) yang mengukur kinerja Greenback terhadap enam mata uang utama, diperdagangkan di sekitar 97,91 pada pukul 13.25 WIB—mendekati level tertinggi dalam hampir empat minggu terakhir. Penguatan ini terjadi setelah rilis risalah pertemuan Januari Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada Rabu lalu, yang menegaskan bahwa pejabat Federal Reserve (The Fed) belum terburu-buru untuk memangkas suku bunga. Sikap tersebut didasari oleh inflasi AS yang masih berada di atas target 2%. Secara teori, kebijakan suku bunga yang tetap stabil setelah periode pelonggaran moneter cenderung mendukung penguatan Dolar AS. Fokus pasar selanjutnya tertuju pada rilis data awal Produk Domestik Bruto (PDB) Kuartal IV dan data Indeks Manajer Pembelian (PMI) S&P Global Februari pada sesi Amerika Utara. Ekonomi AS diperkirakan tumbuh 3% secara tahunan, melambat dari 4,4% pada kuartal sebelumnya, sementara PMI Gabungan diproyeksikan naik ke 53,0 seiring membaiknya aktivitas manufaktur dan jasa.

Blog Photo

Gold Analysis Report

Harga emas ditutup menguat tipis pada perdagangan sebelumnya di level 4.995,92 setelah bergerak dalam rentang 4.960,66–5.022,05. Pergerakan ini menunjukkan pasar masih menjaga momentum bullish meski volatilitas relatif terkendali dengan rata-rata harian 155 poin. Untuk perdagangan Jumat (20/2/2026), level pivot berada di 4.992,88. Selama harga bertahan di atas area ini, emas berpeluang menguji resistance terdekat di 5.025,09, dengan potensi lanjutan ke 5.054,27 hingga 5.086,48. Namun, jika tekanan jual meningkat dan harga turun di bawah 4.992,88, maka support di 4.963,70 menjadi level kunci yang perlu diperhatikan. Penembusan area tersebut dapat membuka ruang koreksi lebih dalam menuju 4.931,49 hingga 4.902,31.

Blog Photo

Meski Terkoreksi, Bos Tambang Yakin Emas Masih Punya Tenaga Lanjutkan Reli

Pengusaha tambang tetap optimistis terhadap prospek emas meski harga sempat terkoreksi. Mengutip Kitco News, Jumat (20/2/2026), harga emas spot bergerak di kisaran US$ 4.976–US$ 5.020 pada Kamis (19/2) waktu AS dan ditutup naik 0,38% di level US$ 4.995,92 per troy ons. CEO American Pacific Mining, Warwick Smith, menegaskan bahwa volatilitas jangka pendek tidak mengubah prospek jangka panjang emas sebagai aset safe haven. Ia juga menyoroti kebutuhan global terhadap komoditas seperti tembaga yang tetap kuat. Reli tajam sejak paruh kedua 2025 hingga Januari 2026 turut mendorong saham sektor tambang. ETF VanEck Gold Miners ETF tercatat melonjak 140% dalam 12 bulan terakhir, melampaui kenaikan harga emas sekitar 64%. Meski koreksi sempat mengguncang psikologis pasar, Smith menilai emas dan saham pertambangan masih berpeluang rebound, didukung fragmentasi global, proteksionisme, dan ketegangan geopolitik yang menopang permintaan logam mulia.

Blog Photo

Emas Tancap Gas ke US$ 5.020, Siap Uji Resistance US$ 5.041 di Tengah Ketidakpastian The Fed & Geopolitik

Harga emas dunia kembali melanjutkan reli di tengah meningkatnya permintaan aset safe haven akibat ketidakpastian global dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Pada Kamis (19/2/2026) pukul 14.10 WIB, emas diperdagangkan di kisaran US$ 5.020,05 per ons, pulih signifikan setelah sempat terkoreksi lebih dari 2% sebelumnya. Sepanjang 2026, logam mulia ini telah melonjak sekitar 15,24%. Pelaku pasar kini menanti risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) untuk membaca sinyal suku bunga. Federal Reserve masih menahan suku bunga di level 3,5%–3,75%, namun perbedaan pandangan antarpejabat terkait peluang pelonggaran moneter membuat pasar tetap waspada. Secara teknikal, tren bullish emas dinilai semakin solid dan berpeluang menguji resistance di US$ 5.041 per ons, dengan support kuat di US$ 4.911. Sentimen geopolitik turut memperkuat daya tarik emas, terutama setelah pernyataan Wakil Presiden AS JD Vance dan Presiden Donald Trump terkait isu Iran memicu kekhawatiran pasar. Dengan kombinasi faktor teknikal dan fundamental yang mendukung, emas masih berpeluang melanjutkan penguatan. Namun, volatilitas tetap tinggi sehingga investor disarankan menjaga manajemen risiko secara disiplin.

Blog Photo

Harga Minyak Menguat di Tengah Ancaman Gangguan Pasokan Timur Tengah

Harga West Texas Intermediate (WTI) naik ke US$62,41 pada Rabu pukul 13.30 WIB, didorong ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan penutupan sementara sebagian Selat Hormuz oleh Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) untuk latihan militer. Kekhawatiran gangguan pasokan menopang sentimen positif harga minyak. Pelaku pasar juga menanti rilis data stok minyak dari American Petroleum Institute (API). Penurunan stok di atas ekspektasi berpotensi mengangkat harga, sementara kenaikan stok bisa menekan WTI. Di sisi lain, perkembangan negosiasi nuklir Iran-AS masih menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi arah harga minyak ke depan.

Blog Photo

Gold Analysis Report

Harga emas pada perdagangan Rabu bergerak volatil dengan rentang cukup lebar. Tercatat harga dibuka di 4.876,65, sempat menyentuh level terendah 4.854,10, lalu menguat hingga mencapai 5.010,78 sebelum akhirnya ditutup di 4.977,20. Untuk perdagangan Kamis (19/2/2026), level pivot berada di 4.947,36. Selama harga bertahan di atas area ini, peluang penguatan menuju resistance 5.040,62 hingga 5.104,04 masih terbuka, bahkan berpotensi menguji 5.197,30 jika momentum berlanjut. Sebaliknya, jika harga turun di bawah pivot, emas berisiko melemah ke support 4.883,94 dan 4.790,68, dengan batas bawah kuat di 4.727,26. Dengan rata-rata pergerakan harian (daily average) sekitar 197 poin, pelaku pasar diimbau mewaspadai potensi volatilitas yang tetap tinggi pada sesi perdagangan hari ini.

Blog Photo

Suku Bunga 3,5%–3,75% Bertahan, Perpecahan Internal The Fed Makin Terlihat

Pejabat Federal Reserve (The Fed) masih berbeda pandangan terkait arah suku bunga dalam rapat Januari. Berdasarkan risalah Federal Open Market Committee (FOMC) 27–28 Januari 2026, sebagian anggota menilai pemangkasan suku bunga sebaiknya ditunda hingga ada bukti jelas inflasi turun menuju target 2%, sementara lainnya membuka peluang pelonggaran jika tekanan harga mereda. Meski suku bunga tetap di kisaran 3,5%–3,75% setelah sebelumnya dipangkas total 0,75 poin persentase pada akhir 2025, arah kebijakan selanjutnya masih belum pasti. Beberapa pejabat bahkan mempertimbangkan kenaikan suku bunga jika inflasi tetap tinggi. Inflasi PCE tercatat sekitar 3%, sedangkan tingkat pengangguran turun menjadi 4,3%. Pasar memperkirakan peluang pemangkasan berikutnya muncul pada Juni, dengan potensi lanjutan pada September atau Oktober, menurut CME FedWatch.

Blog Photo

Gold Analysis Report

Harga emas ditutup melemah tajam pada perdagangan sebelumnya. Emas dibuka di level 4.995,55 dan sempat menyentuh level tertinggi 5.000,72 sebelum akhirnya tertekan hingga menyentuh level terendah 4.842,21. Harga ditutup di 4.877,21, mencerminkan tekanan jual yang cukup dominan. Untuk perdagangan hari ini, level pivot berada di 4.906,71 yang menjadi acuan arah pergerakan. Selama harga bergerak di bawah pivot, tekanan bearish masih berpotensi berlanjut dengan support terdekat di 4.812,71 (S1) dan 4.748,20 (S2). Jika tekanan semakin kuat, level 4.654,20 (S3) menjadi area support lanjutan. Sementara itu, jika harga mampu kembali menguat dan menembus pivot, potensi kenaikan mengarah ke resistance 4.971,22 (R1), dilanjutkan ke 5.065,22 (R2), hingga 5.129,73 (R3). Rata-rata pergerakan harian tercatat sekitar 195 poin, menunjukkan volatilitas pasar yang masih relatif tinggi.

Blog Photo

Emas Anjlok Lebih dari 2%, Damai AS–Iran dan Penguatan Dolar Tekan Harga ke US$4.877

Harga emas dunia melemah lebih dari 2% pada perdagangan Selasa (17/2/2026), seiring berkurangnya minat terhadap aset safe haven setelah adanya kemajuan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran serta penguatan dolar AS. Emas spot turun 2,35% ke level US$ 4.877,21 per ons. Penguatan indeks dolar sebesar 0,3% turut menekan harga karena membuat emas lebih mahal bagi investor global. Analis Kitco Metals, Jim Wyckoff, menilai reli emas membutuhkan katalis baru agar dapat berlanjut. Sentimen negatif juga dipicu perkembangan negosiasi nuklir Iran-AS serta pertemuan damai Ukraina dan Rusia di Jenewa yang berpotensi meredakan ketegangan global. Pasar kini menanti risalah rapat The Fed dan data inflasi PCE AS untuk petunjuk arah suku bunga. Sementara itu, harga perak spot juga turun 4,24% menjadi US$ 73,46 per ons.

Apakah Anda ingin mendapatkan layanan berkualitas kami untuk Investasi?