• company.vifxjogja@gmail.com
  • (0274) 2924181
News Photo

Suku Bunga 3,5%–3,75% Bertahan, Perpecahan Internal The Fed Makin Terlihat

Pejabat Federal Reserve (The Fed) menunjukkan perbedaan pandangan terkait arah kebijakan suku bunga dalam rapat Januari. Sebagian anggota menilai pemangkasan lanjutan sebaiknya ditunda dan baru dipertimbangkan kembali akhir tahun ini apabila inflasi benar-benar bergerak turun sesuai target.

Risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 27–28 Januari 2026 yang dirilis Rabu (18/2/2026) menggarisbawahi dilema antara upaya menekan inflasi dan menjaga kekuatan pasar tenaga kerja. Walaupun keputusan mempertahankan suku bunga acuan relatif disepakati, arah kebijakan selanjutnya masih belum pasti.

Dalam risalah disebutkan bahwa beberapa peserta menilai penyesuaian lanjutan pada suku bunga federal fund dapat dilakukan jika inflasi terus menurun sesuai proyeksi. Namun, muncul perbedaan pandangan apakah prioritas kebijakan seharusnya lebih difokuskan pada pengendalian inflasi atau menjaga stabilitas ketenagakerjaan.

Sejumlah pejabat memilih bersikap hati-hati dengan mempertahankan suku bunga sambil menunggu data ekonomi terbaru. Bahkan, ada pula yang membuka kemungkinan kenaikan suku bunga jika inflasi tetap bertahan di atas target, serta menyarankan agar pernyataan resmi pascarapat mencerminkan dua opsi arah kebijakan tersebut.

Sebelumnya, The Fed telah memangkas suku bunga sebesar 0,75 poin persentase dalam tiga pertemuan berturut-turut pada September, Oktober, dan Desember 2025, sehingga kini berada di kisaran 3,5%–3,75%.

Rapat Januari juga menjadi pertemuan perdana bagi beberapa presiden bank sentral regional baru, seperti Lorie Logan (Dallas) dan Beth Hammack (Cleveland), yang cenderung mendukung penahanan suku bunga karena risiko inflasi dinilai masih tinggi.

Perbedaan pandangan di internal bank sentral AS berpotensi makin melebar jika mantan Gubernur Kevin Warsh ditetapkan sebagai Ketua Fed berikutnya. Warsh bersama Gubernur Stephen Miran dan Christopher Waller diketahui lebih condong pada kebijakan pemangkasan suku bunga. Bahkan, Waller dan Miran menolak keputusan Januari dan mengusulkan tambahan pemotongan sebesar 25 basis poin. Sementara itu, masa jabatan Ketua The Fed, Jerome Powell, dijadwalkan berakhir pada Mei 2026.

Risalah juga menegaskan bahwa meski inflasi diproyeksikan melandai sepanjang tahun, waktu dan kecepatannya masih belum dapat dipastikan. Dampak tarif terhadap harga diperkirakan akan mereda, tetapi risiko inflasi bertahan di atas target 2% tetap dianggap cukup besar.

Setelah rapat, FOMC menyesuaikan redaksi pernyataan resminya dengan menekankan keseimbangan risiko antara inflasi dan pasar tenaga kerja, sekaligus mengurangi kekhawatiran sebelumnya terhadap kondisi ketenagakerjaan.

Data terbaru menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja sektor swasta melambat, terutama dari sektor kesehatan. Meski demikian, tingkat pengangguran turun ke 4,3% pada Januari, dan data nonfarm payroll tercatat lebih baik dari perkiraan.

Dari sisi inflasi, indikator utama yang dipantau The Fed, yakni Personal Consumption Expenditures (PCE), masih berada di sekitar 3%. Sementara itu, inflasi inti berdasarkan indeks harga konsumen (CPI) — yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi — tercatat di level terendah dalam hampir lima tahun terakhir.

Di pasar berjangka, pelaku pasar memperkirakan peluang pemangkasan suku bunga berikutnya terjadi pada Juni, dengan potensi lanjutan pada September atau Oktober, menurut proyeksi CME Group FedWatch.

Bagikan Berita Ini

Komentar

Apakah Anda ingin mendapatkan layanan berkualitas kami untuk Investasi?