Harga emas dunia terkoreksi tajam lebih dari 2% pada perdagangan Selasa (17/2/2026). Penurunan ini dipicu oleh meredanya minat terhadap aset safe haven setelah adanya perkembangan positif dalam perundingan antara Amerika Serikat dan Iran, serta penguatan dolar AS yang menambah tekanan pada harga.
Emas spot tercatat turun 2,35% dan berakhir di level US$ 4.877,21 per ons. Kenaikan indeks dolar AS sebesar 0,3% terhadap sejumlah mata uang utama turut membebani emas, karena penguatan dolar membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi investor luar negeri sehingga permintaan ikut melemah.
Analis senior Kitco Metals, Jim Wyckoff, menyampaikan bahwa reli emas memerlukan katalis fundamental baru agar dapat berlanjut. Menurutnya, tren bullish membutuhkan sentimen positif tambahan, namun belakangan ini belum ada faktor kuat yang mampu mendorong harga emas maupun perak ke level lebih tinggi.
Dari sisi geopolitik, sentimen negatif juga muncul setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mengungkapkan bahwa negaranya dan AS telah mencapai kesepahaman terkait prinsip dasar dalam negosiasi sengketa nuklir, meski belum menghasilkan kesepakatan final.
Selain itu, pertemuan delegasi Ukraina dan Rusia di Jenewa dalam upaya perundingan damai yang dimediasi AS juga dinilai berpotensi meredakan ketegangan global. Kondisi ini mengurangi daya tarik emas sebagai instrumen lindung nilai.
Wyckoff menambahkan bahwa jika AS berhasil menghindari konflik dengan Iran, tingkat kekhawatiran pasar akan menurun, yang pada akhirnya menjadi sentimen negatif bagi emas dan perak. Hal serupa juga berlaku terhadap perkembangan dialog Rusia-Ukraina.
Pelaku pasar kini menantikan risalah rapat The Fed bulan Januari serta rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS pada Jumat (20/2/2026) guna memperoleh petunjuk arah kebijakan suku bunga. Saat ini, pasar memperkirakan pemangkasan suku bunga The Fed pertama tahun ini berpotensi terjadi pada Juni 2026. Emas biasanya diuntungkan dalam kondisi suku bunga rendah karena tidak memberikan imbal hasil bunga.
Sementara itu, aktivitas perdagangan relatif sepi karena sejumlah pasar Asia tutup dalam rangka libur Tahun Baru Imlek, termasuk China, Hong Kong, Taiwan, Korea Selatan, dan Singapura.
Logam mulia lainnya turut tertekan, dengan harga perak spot merosot 4,24% dan ditutup di level US$ 73,46 per ons.
Bagikan Berita Ini