Harga emas pada perdagangan Rabu bergerak volatil dengan rentang cukup lebar. Tercatat harga dibuka di 4.876,65, sempat menyentuh level terendah 4.854,10, lalu menguat hingga mencapai 5.010,78 sebelum akhirnya ditutup di 4.977,20. Untuk perdagangan Kamis (19/2/2026), level pivot berada di 4.947,36. Selama harga bertahan di atas area ini, peluang penguatan menuju resistance 5.040,62 hingga 5.104,04 masih terbuka, bahkan berpotensi menguji 5.197,30 jika momentum berlanjut. Sebaliknya, jika harga turun di bawah pivot, emas berisiko melemah ke support 4.883,94 dan 4.790,68, dengan batas bawah kuat di 4.727,26. Dengan rata-rata pergerakan harian (daily average) sekitar 197 poin, pelaku pasar diimbau mewaspadai potensi volatilitas yang tetap tinggi pada sesi perdagangan hari ini.
Pejabat Federal Reserve (The Fed) masih berbeda pandangan terkait arah suku bunga dalam rapat Januari. Berdasarkan risalah Federal Open Market Committee (FOMC) 27–28 Januari 2026, sebagian anggota menilai pemangkasan suku bunga sebaiknya ditunda hingga ada bukti jelas inflasi turun menuju target 2%, sementara lainnya membuka peluang pelonggaran jika tekanan harga mereda. Meski suku bunga tetap di kisaran 3,5%–3,75% setelah sebelumnya dipangkas total 0,75 poin persentase pada akhir 2025, arah kebijakan selanjutnya masih belum pasti. Beberapa pejabat bahkan mempertimbangkan kenaikan suku bunga jika inflasi tetap tinggi. Inflasi PCE tercatat sekitar 3%, sedangkan tingkat pengangguran turun menjadi 4,3%. Pasar memperkirakan peluang pemangkasan berikutnya muncul pada Juni, dengan potensi lanjutan pada September atau Oktober, menurut CME FedWatch.
Harga emas ditutup melemah tajam pada perdagangan sebelumnya. Emas dibuka di level 4.995,55 dan sempat menyentuh level tertinggi 5.000,72 sebelum akhirnya tertekan hingga menyentuh level terendah 4.842,21. Harga ditutup di 4.877,21, mencerminkan tekanan jual yang cukup dominan. Untuk perdagangan hari ini, level pivot berada di 4.906,71 yang menjadi acuan arah pergerakan. Selama harga bergerak di bawah pivot, tekanan bearish masih berpotensi berlanjut dengan support terdekat di 4.812,71 (S1) dan 4.748,20 (S2). Jika tekanan semakin kuat, level 4.654,20 (S3) menjadi area support lanjutan. Sementara itu, jika harga mampu kembali menguat dan menembus pivot, potensi kenaikan mengarah ke resistance 4.971,22 (R1), dilanjutkan ke 5.065,22 (R2), hingga 5.129,73 (R3). Rata-rata pergerakan harian tercatat sekitar 195 poin, menunjukkan volatilitas pasar yang masih relatif tinggi.
Harga emas dunia melemah lebih dari 2% pada perdagangan Selasa (17/2/2026), seiring berkurangnya minat terhadap aset safe haven setelah adanya kemajuan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran serta penguatan dolar AS. Emas spot turun 2,35% ke level US$ 4.877,21 per ons. Penguatan indeks dolar sebesar 0,3% turut menekan harga karena membuat emas lebih mahal bagi investor global. Analis Kitco Metals, Jim Wyckoff, menilai reli emas membutuhkan katalis baru agar dapat berlanjut. Sentimen negatif juga dipicu perkembangan negosiasi nuklir Iran-AS serta pertemuan damai Ukraina dan Rusia di Jenewa yang berpotensi meredakan ketegangan global. Pasar kini menanti risalah rapat The Fed dan data inflasi PCE AS untuk petunjuk arah suku bunga. Sementara itu, harga perak spot juga turun 4,24% menjadi US$ 73,46 per ons.
Harga emas dunia melonjak lebih dari 2% pada Jumat (13/2/2026) setelah data inflasi Amerika Serikat tercatat lebih rendah dari perkiraan. Kondisi ini kembali memicu harapan bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga tahun ini. Mengutip CNBC, harga emas spot naik 2,25% dan ditutup di US$ 5.032,39 per ons, setelah sehari sebelumnya sempat anjlok sekitar 3%. Kenaikan ini menjadi sinyal rebound kuat di tengah meredanya kekhawatiran pasar. Data dari US Department of Labor menunjukkan Indeks Harga Konsumen (CPI) Januari naik 0,2%, lebih rendah dari proyeksi 0,3%. Inflasi yang lebih terkendali memperbesar peluang pelonggaran kebijakan moneter. Berdasarkan data London Stock Exchange Group (LSEG), pasar memperkirakan pemangkasan suku bunga mencapai 63 basis poin tahun ini, dengan potensi penurunan pertama pada Juli. Sementara itu, analis ANZ menaikkan proyeksi harga emas kuartal II menjadi US$ 5.800 per ons. Di sisi lain, harga perak spot juga naik 2,29% ke US$ 76,97 per ons setelah sebelumnya sempat terkoreksi tajam.
Harga emas dunia ditutup menguat pada perdagangan sebelumnya setelah sempat bergerak volatil sepanjang sesi. Emas dibuka di level 4921.38, lalu sempat melemah hingga menyentuh level terendah 4885.61. Namun, tekanan beli yang cukup kuat mendorong harga naik ke level tertinggi 5045.90 sebelum akhirnya ditutup menguat di 5032.39. Secara teknikal, level Pivot berada di 4987.97 yang menjadi acuan utama pergerakan hari ini. Selama harga bergerak di atas area pivot, potensi penguatan masih terbuka dengan target kenaikan menuju Resistance 1 (5090.32) dan Resistance 2 (5148.26). Jika momentum beli berlanjut, harga berpeluang menguji Resistance 3 (5250.61). Sebaliknya, jika harga kembali berada di bawah pivot, maka tekanan jual berpotensi membawa harga turun ke Support 1 (4930.03), dengan target lanjutan di Support 2 (4827.68) hingga Support 3 (4769.74). Dengan rata-rata pergerakan harian (daily average) sebesar 210 poin, pelaku pasar diharapkan tetap memperhatikan manajemen risiko serta momentum pasar pada sesi perdagangan hari ini.
Harga emas dunia anjlok ke level terendah hampir sepekan pada Kamis (12/2/2026) setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang kuat meredam harapan pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat. Emas spot turun 3,27% dan ditutup di US$ 4.921,6 per ons, setelah menembus level psikologis US$ 5.000 yang memicu aksi jual masif. Analis dari City Index dan FOREX.com menyebut penurunan dipicu aktivasi stop-loss di bawah US$ 5.000, sehingga mempercepat tekanan jual. Data menunjukkan nonfarm payrolls Januari naik 130.000 dan tingkat pengangguran turun ke 4,3%, memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Investor kini menanti rilis data inflasi AS yang berpotensi menentukan arah kebijakan berikutnya. Sementara itu, harga perak juga tertekan, merosot 11,1% ke US$ 75,25 per ons.
Harga emas melanjutkan tekanan setelah penurunan tajam pada sesi sebelumnya. Berdasarkan data perdagangan terakhir, emas dibuka di level 5092.29 dan sempat menyentuh level tertinggi 5099.61, sebelum akhirnya tertekan hingga menyentuh low 4878.53 dan ditutup melemah di 4921.60. Untuk perdagangan hari ini, level pivot berada di 4966.58 yang menjadi acuan arah pergerakan harga. Jika mampu bertahan di atas pivot, emas berpeluang menguji resistance di 5054.63 (R1), dengan target lanjutan di 5187.66 (R2) hingga 5275.71 (R3). Sebaliknya, jika tekanan jual berlanjut dan harga bergerak di bawah pivot, support terdekat berada di 4833.55 (S1), dengan potensi pelemahan lanjutan menuju 4745.50 (S2) dan 4612.47 (S3). Dengan rata-rata pergerakan harian (daily average) sekitar 250 poin, volatilitas emas masih tergolong tinggi sehingga pelaku pasar perlu mencermati level teknikal kunci sebelum mengambil keputusan transaksi.
Harga emas ditutup menguat pada perdagangan sebelumnya setelah bergerak cukup volatil sepanjang sesi. Emas dibuka di level 5027.93, sempat menyentuh level terendah 5019.11, lalu menguat hingga mencapai level tertinggi 5118.87, sebelum akhirnya ditutup di 5084.20. Secara teknikal, level Pivot berada di 5074.06, yang kini menjadi acuan pergerakan harga hari ini. Selama harga bertahan di atas pivot, peluang penguatan menuju Resistance 1 (5129.01) masih terbuka. Jika momentum bullish berlanjut, harga berpotensi menguji R2 (5173.82) hingga R3 (5228.77). Sebaliknya, jika tekanan jual kembali mendominasi dan harga turun di bawah pivot, maka area Support 1 (5029.25) menjadi level terdekat yang perlu diperhatikan. Penembusan di bawah level tersebut dapat membuka ruang koreksi menuju S2 (4974.30) hingga S3 (4929.49). Dengan rata-rata pergerakan harian sebesar 238 poin, pelaku pasar diharapkan tetap mewaspadai potensi volatilitas yang cukup tinggi dalam sesi perdagangan hari ini.
Harga emas dunia mencatat kenaikan sekitar 1% pada perdagangan Rabu (11/2/2026), didukung oleh permintaan jangka panjang yang tetap kuat meskipun data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja yang solid. Harga emas spot naik 1,17% dan ditutup di level US$ 5.084,2 per ons, setelah sempat menyentuh level tertinggi harian di US$ 5.118,87 per ons. Data terbaru menunjukkan tingkat pengangguran AS turun menjadi 4,3%, memberikan ruang bagi Federal Reserve (The Fed) untuk mempertahankan suku bunga. Kendati demikian, pelaku pasar menilai satu laporan ketenagakerjaan yang kuat belum cukup untuk mengubah tren penguatan emas yang secara year to date telah meningkat lebih dari 17%. Investor saat ini menantikan rilis data indeks harga konsumen (CPI) AS yang diperkirakan menjadi katalis lanjutan bagi pergerakan harga emas. Di sisi lain, harga perak spot turut menguat 4,34% ke level US$ 84,23 per ons.