• company.vifxjogja@gmail.com
  • (0274) 2924181
Blog Photo

Gold Analysis Report

Harga emas pada perdagangan sebelumnya ditutup menguat signifikan di 5227.46 setelah dibuka di 5107.29 dan sempat menyentuh level tertinggi 5237.61. Pergerakan ini menunjukkan dominasi tekanan beli dengan range harian yang cukup lebar, mendekati rata-rata pergerakan harian (170 poin). Secara teknikal, level pivot berada di 5189.21. Selama harga bertahan di atas pivot, peluang kenaikan masih terbuka dengan target resistance terdekat di 5275.86 (R1), lalu 5324.25 (R2), hingga 5410.90 (R3). Namun, jika harga turun di bawah 5189.21, potensi koreksi dapat mengarah ke 5140.82 (S1), kemudian 5054.17 (S2), dan support kuat di 5005.78 (S3). Secara keseluruhan, bias jangka pendek masih cenderung bullish selama harga bertahan di atas area pivot.

Blog Photo

Ketidakpastian Tarif Tekan Dolar, Emas dan Yen Diuntungkan

Indeks Dolar AS (DXY) pada awal sesi Eropa bergerak menguat tipis setelah sebelumnya melemah tajam di sesi Asia ke area 97,50–97,79. Pelemahan ini dipicu oleh ketidakpastian kebijakan tarif AS, terutama setelah putusan Mahkamah Agung yang membatalkan sebagian wewenang tarif, disusul pengumuman tarif impor sementara yang lebih tinggi. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap dampak ekonomi dan fiskal AS sehingga memicu tekanan jual pada dolar. Melemahnya dolar di sesi Asia mendorong kenaikan harga emas dan aset safe haven lainnya, serta pelemahan dolar terhadap mata uang mayor seperti euro dan yen. Dari sisi fundamental, data ekonomi AS yang moderat—termasuk pertumbuhan Q4 2025 dan inflasi inti sekitar 3%—belum cukup kuat untuk menopang penguatan dolar, sementara ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed juga masih terbatas. Secara teknikal, DXY diperkirakan bergerak sideways dengan kecenderungan bearish ringan. Level resistance berada di 97,80–98,10 dan support di 97,30–97,50. Penembusan di bawah support berpotensi memperpanjang pelemahan, sementara penguatan membutuhkan dukungan data ekonomi atau sinyal kebijakan moneter.

Blog Photo

Trump & Iran Memanas, Harga Emas Siap Uji $5.300?

Harga emas dunia kembali menguat di atas $5.200 per troy ons pada perdagangan Senin, didorong meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah memanasnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Pernyataan Presiden AS, Donald Trump, yang mempertimbangkan opsi serangan militer ke Iran turut memicu kekhawatiran pasar, meski dinilai sebagian analis sebagai strategi negosiasi. Secara teknikal, emas dibuka di sekitar $5.226 dan menguji resistance $5.250. Jika level ini tembus, harga berpotensi naik ke $5.275–$5.300. Namun, jika turun di bawah $5.200, tekanan bearish bisa membawa harga ke $5.175 hingga $5.150.

Blog Photo

Gold Analysis Report

Harga emas melanjutkan penguatan pada perdagangan sebelumnya dengan ditutup di level 5.097,03 setelah sempat menyentuh level tertinggi 5.097,87. Emas dibuka di 5.000,54 dan bergerak di rentang harian cukup lebar hingga menyentuh level terendah 4.981,62, mencerminkan volatilitas yang masih tinggi dengan rata-rata pergerakan harian 161 poin. Untuk perdagangan hari ini, level pivot berada di 5.058,84 yang menjadi acuan arah pergerakan harga. Selama harga bertahan di atas pivot, peluang penguatan masih terbuka dengan target resistance di 5.136,06 (R1), 5.175,09 (R2), hingga 5.252,31 (R3). Sebaliknya, jika harga bergerak turun di bawah pivot, tekanan koreksi berpotensi menguji area support di 5.019,81 (S1), 4.942,59 (S2), dan 4.903,56 (S3). Pelaku pasar disarankan tetap waspada terhadap potensi fluktuasi tajam seiring tingginya volatilitas pasar emas.

Blog Photo

Harga Emas Naik, Didorong Melemahnya Data Pertumbuhan Ekonomi AS

Harga emas dunia melonjak lebih dari 2% pada Jumat (20/2/2026), didorong data pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) yang lebih lemah dari perkiraan serta meningkatnya ketidakpastian kebijakan tarif. Harga emas spot naik 2,02% dan ditutup di US$ 5.097,07 per ons. Data menunjukkan Produk Domestik Bruto (PDB) AS kuartal IV hanya tumbuh 1,4% (annualized), jauh di bawah proyeksi 2,8%. Perlambatan dipicu penutupan sebagian aktivitas pemerintahan dan melemahnya belanja konsumen. Di sisi lain, inflasi yang tercermin dari indeks PCE naik 0,4% pada Desember, sedikit di atas ekspektasi. Kombinasi perlambatan ekonomi dan inflasi yang masih bertahan dinilai meningkatkan ketidakpastian, sehingga mendorong minat terhadap aset safe haven seperti emas. Pasar juga mencermati langkah Presiden AS Donald Trump yang berencana menerapkan tarif global 10% selama 150 hari, menyusul putusan Mahkamah Agung yang membatalkan kebijakan tarif sebelumnya. Pelaku pasar saat ini masih memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga dua kali tahun ini, dengan potensi pemangkasan pertama pada Juni 2026. Sementara itu, harga perak spot turut melonjak 7,66% ke US$ 84,51 per ons.

Blog Photo

Indeks Dolar AS Menguat Lima Hari Beruntun, Dekati Level Tertinggi Empat Minggu

Dolar AS (USD) menguat pada perdagangan Jumat, dengan Indeks Dolar AS (DXY) yang mengukur kinerja Greenback terhadap enam mata uang utama, diperdagangkan di sekitar 97,91 pada pukul 13.25 WIB—mendekati level tertinggi dalam hampir empat minggu terakhir. Penguatan ini terjadi setelah rilis risalah pertemuan Januari Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada Rabu lalu, yang menegaskan bahwa pejabat Federal Reserve (The Fed) belum terburu-buru untuk memangkas suku bunga. Sikap tersebut didasari oleh inflasi AS yang masih berada di atas target 2%. Secara teori, kebijakan suku bunga yang tetap stabil setelah periode pelonggaran moneter cenderung mendukung penguatan Dolar AS. Fokus pasar selanjutnya tertuju pada rilis data awal Produk Domestik Bruto (PDB) Kuartal IV dan data Indeks Manajer Pembelian (PMI) S&P Global Februari pada sesi Amerika Utara. Ekonomi AS diperkirakan tumbuh 3% secara tahunan, melambat dari 4,4% pada kuartal sebelumnya, sementara PMI Gabungan diproyeksikan naik ke 53,0 seiring membaiknya aktivitas manufaktur dan jasa.

Blog Photo

Gold Analysis Report

Harga emas ditutup menguat tipis pada perdagangan sebelumnya di level 4.995,92 setelah bergerak dalam rentang 4.960,66–5.022,05. Pergerakan ini menunjukkan pasar masih menjaga momentum bullish meski volatilitas relatif terkendali dengan rata-rata harian 155 poin. Untuk perdagangan Jumat (20/2/2026), level pivot berada di 4.992,88. Selama harga bertahan di atas area ini, emas berpeluang menguji resistance terdekat di 5.025,09, dengan potensi lanjutan ke 5.054,27 hingga 5.086,48. Namun, jika tekanan jual meningkat dan harga turun di bawah 4.992,88, maka support di 4.963,70 menjadi level kunci yang perlu diperhatikan. Penembusan area tersebut dapat membuka ruang koreksi lebih dalam menuju 4.931,49 hingga 4.902,31.

Blog Photo

Meski Terkoreksi, Bos Tambang Yakin Emas Masih Punya Tenaga Lanjutkan Reli

Pengusaha tambang tetap optimistis terhadap prospek emas meski harga sempat terkoreksi. Mengutip Kitco News, Jumat (20/2/2026), harga emas spot bergerak di kisaran US$ 4.976–US$ 5.020 pada Kamis (19/2) waktu AS dan ditutup naik 0,38% di level US$ 4.995,92 per troy ons. CEO American Pacific Mining, Warwick Smith, menegaskan bahwa volatilitas jangka pendek tidak mengubah prospek jangka panjang emas sebagai aset safe haven. Ia juga menyoroti kebutuhan global terhadap komoditas seperti tembaga yang tetap kuat. Reli tajam sejak paruh kedua 2025 hingga Januari 2026 turut mendorong saham sektor tambang. ETF VanEck Gold Miners ETF tercatat melonjak 140% dalam 12 bulan terakhir, melampaui kenaikan harga emas sekitar 64%. Meski koreksi sempat mengguncang psikologis pasar, Smith menilai emas dan saham pertambangan masih berpeluang rebound, didukung fragmentasi global, proteksionisme, dan ketegangan geopolitik yang menopang permintaan logam mulia.

Blog Photo

Emas Tancap Gas ke US$ 5.020, Siap Uji Resistance US$ 5.041 di Tengah Ketidakpastian The Fed & Geopolitik

Harga emas dunia kembali melanjutkan reli di tengah meningkatnya permintaan aset safe haven akibat ketidakpastian global dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Pada Kamis (19/2/2026) pukul 14.10 WIB, emas diperdagangkan di kisaran US$ 5.020,05 per ons, pulih signifikan setelah sempat terkoreksi lebih dari 2% sebelumnya. Sepanjang 2026, logam mulia ini telah melonjak sekitar 15,24%. Pelaku pasar kini menanti risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) untuk membaca sinyal suku bunga. Federal Reserve masih menahan suku bunga di level 3,5%–3,75%, namun perbedaan pandangan antarpejabat terkait peluang pelonggaran moneter membuat pasar tetap waspada. Secara teknikal, tren bullish emas dinilai semakin solid dan berpeluang menguji resistance di US$ 5.041 per ons, dengan support kuat di US$ 4.911. Sentimen geopolitik turut memperkuat daya tarik emas, terutama setelah pernyataan Wakil Presiden AS JD Vance dan Presiden Donald Trump terkait isu Iran memicu kekhawatiran pasar. Dengan kombinasi faktor teknikal dan fundamental yang mendukung, emas masih berpeluang melanjutkan penguatan. Namun, volatilitas tetap tinggi sehingga investor disarankan menjaga manajemen risiko secara disiplin.

Blog Photo

Harga Minyak Menguat di Tengah Ancaman Gangguan Pasokan Timur Tengah

Harga West Texas Intermediate (WTI) naik ke US$62,41 pada Rabu pukul 13.30 WIB, didorong ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan penutupan sementara sebagian Selat Hormuz oleh Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) untuk latihan militer. Kekhawatiran gangguan pasokan menopang sentimen positif harga minyak. Pelaku pasar juga menanti rilis data stok minyak dari American Petroleum Institute (API). Penurunan stok di atas ekspektasi berpotensi mengangkat harga, sementara kenaikan stok bisa menekan WTI. Di sisi lain, perkembangan negosiasi nuklir Iran-AS masih menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi arah harga minyak ke depan.

Apakah Anda ingin mendapatkan layanan berkualitas kami untuk Investasi?