Harga emas dunia mengalami penurunan tajam hingga menyentuh level terendah dalam hampir satu pekan pada Kamis (12/2/2026). Kejatuhan ini terjadi setelah rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang solid, sehingga meredam ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga dalam waktu dekat. Tekanan jual semakin kuat ketika harga emas menembus batas psikologis US$ 5.000 per ons, yang memicu aksi jual besar-besaran.
Emas spot tercatat merosot 3,27% dan ditutup di level US$ 4.921,6 per ons. Sepanjang perdagangan, harga bahkan sempat mencapai titik terendah sejak 6 Februari 2026.
Analis pasar dari City Index dan FOREX.com, Fawad Razaqzada, menjelaskan bahwa penurunan tajam ini dipicu oleh aktifnya stop-loss yang dipasang investor di sekitar level penting. Menurutnya, volatilitas yang tinggi sebelumnya mendorong banyak pelaku pasar menempatkan stop-loss di bawah US$ 5.000 atau di atas US$ 5.100 sebagai langkah proteksi.
Ketika harga turun melewati US$ 5.000, order stop-loss tersebut otomatis tereksekusi dan menimbulkan efek berantai yang mempercepat penurunan harga dalam waktu singkat.
Tekanan terhadap emas terutama berasal dari data tenaga kerja AS yang lebih baik dari proyeksi. Kondisi ini memperkuat keyakinan bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Data menunjukkan nonfarm payrolls bertambah 130.000 pekerjaan pada Januari, setelah kenaikan Desember direvisi turun menjadi 48.000. Tingkat pengangguran juga turun tipis ke 4,3%. Selain itu, klaim pengangguran mingguan berkurang menjadi 227.000 untuk periode yang berakhir 7 Februari, mencerminkan pasar tenaga kerja yang tetap kuat.
Kondisi ketenagakerjaan yang solid memberi ruang bagi The Fed untuk menjaga suku bunga tetap tinggi demi memastikan inflasi terus melandai. Situasi ini cenderung berdampak negatif bagi emas, karena logam mulia tidak menawarkan imbal hasil bunga sehingga kurang menarik dibandingkan instrumen berbunga.
Pelaku pasar kini menantikan rilis data inflasi AS pada Jumat (13/2/2026) yang dinilai dapat menjadi penentu arah kebijakan moneter selanjutnya.
Vice President dan Senior Metals Strategist di Zaner Metals, Peter Grant, menyebutkan bahwa inflasi yang lebih rendah berpotensi membuka peluang rebound bagi emas. Ia memperkirakan inflasi utama (headline CPI) turun dari 2,7% menjadi sekitar 2,5%, bahkan bisa menyentuh 2,4%. Jika proyeksi tersebut terealisasi, harapan pemangkasan suku bunga dapat kembali meningkat dan menjadi sentimen positif bagi emas.
Tidak hanya emas, logam mulia lainnya juga terkoreksi. Harga perak mencatat penurunan paling tajam dengan anjlok 11,1% ke level US$ 75,25 per ons, setelah sebelumnya sempat menguat 4%.
Bagikan Berita Ini