Harga emas dunia naik sekitar 1% pada perdagangan Rabu (11/2/2026), meskipun pasar sempat merespons positif data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang kuat. Stabilnya permintaan jangka panjang membuat logam mulia ini tetap mampu menjaga tren penguatannya.
Harga emas spot tercatat melonjak 1,17% dan ditutup di level US$ 5.084,2 per ons. Sepanjang sesi perdagangan, emas bahkan sempat menyentuh posisi tertinggi harian di US$ 5.118,87 per ons sebelum akhirnya terkoreksi tipis.
Mengutip CNBC Internasional, penguatan ini terjadi di tengah laporan tenaga kerja AS yang menunjukkan penambahan lapangan kerja pada Januari serta penurunan tingkat pengangguran menjadi 4,3%. Kondisi tersebut mencerminkan pasar tenaga kerja yang masih solid dan memberi ruang bagi Federal Reserve (The Fed) untuk mempertahankan suku bunga sambil terus mencermati perkembangan inflasi.
Namun demikian, pelaku pasar menilai satu kali rilis data ketenagakerjaan yang kuat belum cukup untuk membalikkan tren kenaikan emas.
Trader logam independen Tai Wong menyatakan bahwa satu laporan positif tidak akan mengubah pola pembelian emas yang didorong faktor fundamental dan berorientasi jangka panjang. Ia menilai, setelah sempat terkoreksi tajam, harga emas kembali membentuk tren naik dengan pola higher high dan higher low. Investor tetap optimistis di tengah tingginya utang global serta dorongan diversifikasi aset keluar dari AS.
Sebelumnya, emas sempat tertekan selama dua hari perdagangan pada 30 Januari dan 2 Februari 2026, setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan kandidat pilihannya untuk posisi ketua The Fed.
Meski sempat mengalami tekanan, secara year to date (ytd) harga emas masih mencatat kenaikan lebih dari 17%. Lonjakan ini melanjutkan reli tahun sebelumnya yang mencetak rekor, didorong oleh ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global serta aksi beli besar-besaran oleh bank sentral berbagai negara.
Di sisi lain, data yang dirilis Selasa menunjukkan penjualan ritel AS pada Desember stagnan dan tidak sesuai dengan ekspektasi pasar. Hal ini mengindikasikan potensi perlambatan belanja konsumen dan pertumbuhan ekonomi di awal tahun.
Survei Reuters memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga hingga masa jabatan Ketua Jerome Powell berakhir pada Mei, sebelum memangkasnya pada Juni. Namun, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa kebijakan di bawah penerus Powell, Kevin Warsh, berisiko menjadi terlalu longgar.
Secara historis, emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil cenderung menguat ketika ketidakpastian geopolitik dan ekonomi meningkat, serta saat suku bunga memasuki fase penurunan.
Pelaku pasar kini menunggu rilis data indeks harga konsumen (CPI) AS yang dijadwalkan pada Jumat (13/2/2026), yang diperkirakan dapat menjadi katalis baru bagi pergerakan harga emas.
Selain emas, logam mulia lainnya juga menguat. Harga perak spot melonjak 4,34% ke level US$ 84,23 per ons, setelah sebelumnya turun lebih dari 3% sehari sebelumnya.
Bagikan Berita Ini