Harga emas global mengalami penurunan pada perdagangan Selasa (10/2/2026). Koreksi ini terjadi karena pelaku pasar cenderung menahan posisi dan melakukan konsolidasi menjelang rilis sejumlah data ekonomi penting Amerika Serikat (AS), khususnya terkait ketenagakerjaan dan inflasi, yang dinilai akan memengaruhi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Emas spot tercatat melemah 0,65% dan berakhir di posisi US$5.025,25 per ons. Direktur perdagangan logam High Ridge Futures, David Meger, menilai penurunan tersebut lebih disebabkan oleh aksi ambil untung dalam jangka pendek. Menurutnya, pasar tengah berada dalam fase koreksi ringan sembari menunggu data ekonomi utama yang dijadwalkan rilis pada akhir pekan.
Fokus pasar saat ini tertuju pada laporan nonfarm payroll AS periode Januari yang akan diumumkan pada Rabu (11/2/2026). Survei Reuters menunjukkan para ekonom memproyeksikan penambahan sekitar 70.000 tenaga kerja. Selain itu, data inflasi AS yang tercermin dalam Indeks Harga Konsumen (CPI) akan dirilis pada Jumat mendatang.
Sebelumnya, data penjualan ritel AS pada Desember menunjukkan stagnasi, berlawanan dengan perkiraan pasar. Hal ini mengindikasikan adanya perlambatan konsumsi rumah tangga serta sinyal melemahnya pertumbuhan ekonomi AS di awal tahun.
Kondisi ekonomi yang cenderung melunak tersebut memperkuat ekspektasi pasar terhadap pelonggaran kebijakan moneter. Saat ini, pelaku pasar memperkirakan The Fed akan menurunkan suku bunga sebanyak dua kali, masing-masing sebesar 25 basis poin, sepanjang tahun ini. Situasi suku bunga yang lebih rendah biasanya menjadi sentimen positif bagi emas karena mengurangi biaya peluang kepemilikan aset tanpa imbal hasil.
Meger juga menyebutkan bahwa tren pelemahan dolar AS masih berpotensi menopang harga emas. Ditambah dengan ketidakpastian geopolitik global dan harapan pemangkasan suku bunga, emas tetap diminati, terutama karena harganya mampu bertahan di atas level psikologis US$5.000 per ons.
Dari sisi permintaan, investor di India tercatat meningkatkan pembelian exchange-traded fund (ETF) berbasis emas sepanjang Januari, seiring kenaikan harga logam mulia tersebut. Bahkan, aliran dana ke ETF emas dilaporkan melampaui investasi pada reksa dana saham untuk pertama kalinya, berdasarkan data industri terbaru.
Sementara itu, London Bullion Market Association (LBMA) mencatat cadangan perak di gudang London pada akhir Januari turun 0,3% dibandingkan bulan sebelumnya menjadi 27.729 ton metrik. Berbanding terbalik, persediaan emas justru naik 0,6% menjadi 9.158 ton.
Harga perak spot mengalami penurunan tajam sebesar 3,06% dan ditutup di level US$80,73 per ons, setelah sempat melonjak hampir 7% pada sesi perdagangan sebelumnya. Standard Chartered dalam laporannya menyampaikan bahwa arus keluar dari produk investasi berbasis perak masih menekan pergerakan harga dalam jangka pendek. Meski demikian, kondisi pasar yang mengalami defisit pasokan dinilai dapat menjadi faktor pendorong pemulihan harga perak dalam beberapa bulan ke depan.
Bagikan Berita Ini