• company.vifxjogja@gmail.com
  • (0274) 2924181
News Photo

Harga Emas dan Perak Kembali Cetak Rekor, Minat Safe Haven Menguat

Harga emas global kembali melonjak dan mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) pada perdagangan Rabu (14/1/2026). Penguatan ini didorong meningkatnya ketidakpastian geopolitik serta ekonomi dunia, yang memicu peralihan dana investor ke aset lindung nilai atau safe haven.

Emas spot tercatat menguat 0,95% dan ditutup di level US$ 4.626,35 per ons, setelah sebelumnya sempat menyentuh puncak baru di US$ 4.642,88 per ons.

Mengacu pada laporan Reuters, lonjakan harga emas terjadi di tengah perpaduan sentimen global yang semakin rumit, mulai dari memanasnya tensi geopolitik hingga ekspektasi pasar terhadap potensi pelonggaran kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).

Chief Operating Officer Allegiance Gold, Alex Ebkarian, menyatakan bahwa arus minat investor kini mengarah kuat ke emas dan perak. Ia menilai permintaan datang dari berbagai segmen pasar, menandakan bahwa logam mulia telah memasuki fase penguatan struktural atau bullish jangka panjang.

Secara historis, emas—yang tidak memberikan imbal hasil bunga—cenderung tampil solid ketika suku bunga berada pada level rendah dan ketidakpastian meningkat, dua kondisi yang saat ini kembali mendominasi pasar.

Dari sisi geopolitik, Iran melayangkan peringatan kepada negara-negara tetangga yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat (AS), dengan ancaman akan menyerang fasilitas tersebut jika Washington ikut campur dalam gejolak domestik di Iran.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump kembali menyuarakan keinginannya agar Amerika Serikat menguasai Greenland, yang memicu respons diplomatik dari Denmark dan otoritas Greenland.

Di bidang ekonomi, data terbaru menunjukkan penjualan ritel AS pada November melampaui perkiraan pasar. Indeks harga produsen (PPI) tercatat sesuai ekspektasi secara bulanan, namun lebih tinggi secara tahunan, menyusul rilis inflasi inti Desember yang lebih lemah dari proyeksi.

Kondisi tersebut membuat pelaku pasar tetap memproyeksikan dua kali pemangkasan suku bunga The Fed sepanjang tahun 2026.

Kekhawatiran terhadap independensi bank sentral AS kembali mencuat setelah sejumlah bank sentral global menyatakan dukungan kepada Ketua The Fed Jerome Powell, menyusul ancaman pemerintahan Trump untuk membawa Powell ke proses hukum.

Tidak hanya emas, harga perak juga mengalami lonjakan signifikan. Perak spot melesat 7,26% dan ditutup di level US$ 93,22 per ons, setelah sebelumnya menyentuh rekor tertinggi di US$ 93,48 per ons.

Ebkarian bahkan menilai harga perak masih memiliki ruang penguatan hingga menembus level tiga digit. Ia menyebutkan bahwa harga perak di kisaran US$ 100 bukanlah sesuatu yang luar biasa, dengan proyeksi jangka pendek berada pada rentang US$ 100 hingga US$ 144 per ons.

sumber : investor.id

Bagikan Berita Ini

Komentar

Apakah Anda ingin mendapatkan layanan berkualitas kami untuk Investasi?