• company.vifxjogja@gmail.com
  • (0274) 2924181
News Photo

Harga Emas Naik Didorong Perlambatan Inflasi dan Pasar Tenaga Kerja AS

Harga emas membukukan kenaikan secara mingguan pada perdagangan Jumat (19/12/2025), seiring menguatnya ekspektasi pelaku pasar terhadap pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve. Harapan pelonggaran kebijakan moneter semakin besar setelah data inflasi dan ketenagakerjaan Amerika Serikat menunjukkan tanda-tanda perlambatan.

Harga emas spot tercatat menguat 0,15% dan ditutup di level US$ 4.339,38 per ons. Dalam sepekan, logam mulia ini naik sekitar 0,83%. Sementara itu, dalam satu bulan terakhir harga emas melonjak 6,29% dan sepanjang tahun 2025 telah melesat hingga 65,84%.

Mengacu laporan Reuters, penguatan emas berlangsung di tengah reli signifikan logam mulia lainnya, khususnya perak yang menembus rekor tertinggi sepanjang masa. Meski demikian, pasar menilai emas masih memiliki potensi kenaikan lebih lanjut seiring perubahan ekspektasi kebijakan moneter global.

Head Trader US Global Investors, Michael Matousek, menjelaskan bahwa pergerakan harga emas dan perak umumnya saling berkaitan, dengan emas biasanya menjadi penentu arah. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, perak justru mencatatkan kenaikan yang lebih agresif.

“Dalam kondisi normal emas memimpin pergerakan, tetapi dua bulan terakhir perak melaju lebih cepat. Ketika selisih kinerja terlalu lebar, investor cenderung kembali ke emas untuk mengejar ketertinggalan dalam jangka pendek,” kata Matousek.

Sepanjang tahun ini, harga emas telah meningkat sekitar 65%, meskipun masih tertinggal dari lonjakan perak yang melesat lebih dari 130%. Analis menilai kondisi tersebut membuka peluang terjadinya rotasi minat investor kembali ke emas, khususnya sebagai instrumen lindung nilai.

Dari sisi fundamental, data ekonomi AS menjadi faktor utama penguatan harga emas. Inflasi konsumen AS pada November tercatat sebesar 2,7% secara tahunan, lebih rendah dari proyeksi ekonom yang memperkirakan 3,1%.

Selain itu, tingkat pengangguran AS naik ke level 4,6%, tertinggi sejak September 2021.

Chief Market Strategist Blue Line Futures, Phillip Streible, menilai kombinasi inflasi yang mereda dan melemahnya pasar tenaga kerja semakin menguatkan keyakinan pasar terhadap kelanjutan kebijakan pelonggaran The Fed.

“Kami melihat inflasi yang lebih rendah serta data ketenagakerjaan yang melemah. Ini memperkuat pandangan bahwa The Fed berada di jalur penurunan suku bunga. Ketidakpastian arah kebijakan bank sentral juga menjadi penopang utama harga emas,” ujar Streible.

Berdasarkan data LSEG, pasar kini memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga setidaknya dua kali masing-masing sebesar 25 basis poin pada tahun depan. Ekspektasi tersebut membuat emas tetap diminati sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi global.

sumber : investor.id

Bagikan Berita Ini

Komentar

Apakah Anda ingin mendapatkan layanan berkualitas kami untuk Investasi?