West Texas Intermediate (WTI), sebagai acuan harga Minyak Mentah Amerika Serikat, diperdagangkan di kisaran US$ 56,15 per barel pada Rabu siang pukul 13.25 WIB. Harga WTI menguat seiring meningkatnya volatilitas pasokan Minyak Mentah dari kawasan Amerika Latin. Pelaku pasar saat ini menantikan rilis laporan stok Minyak Mentah dari Energy Information Administration (EIA) yang dijadwalkan terbit pada Rabu malam.
Reuters melaporkan pada Selasa malam bahwa Presiden AS Donald Trump telah memerintahkan pemblokiran seluruh kapal tanker Minyak Venezuela yang terkena sanksi, baik yang masuk maupun keluar wilayah tersebut. Pernyataan ini muncul setelah militer AS menyita sebuah kapal tanker di perairan dekat Venezuela. Selain itu, Washington juga memerintahkan pengerahan besar-besaran kekuatan militer AS di lepas pantai Venezuela dalam operasi yang diklaim bertujuan memberantas penyelundupan narkoba. Langkah Trump tersebut berpotensi menopang harga WTI karena meningkatkan risiko gangguan pasokan serta menambah premi geopolitik di pasar.
Di samping faktor geopolitik, penurunan stok Minyak Mentah yang lebih besar dari perkiraan juga berpeluang mendorong kenaikan harga minyak. Data American Petroleum Institute (API) yang dirilis Selasa menunjukkan persediaan Minyak Mentah AS untuk pekan yang berakhir 12 Desember menyusut 9,3 juta barel, jauh lebih besar dibandingkan penurunan 4,8 juta barel pada pekan sebelumnya. Sementara itu, konsensus pasar sebelumnya hanya memperkirakan penurunan sekitar 2,2 juta barel.
Namun, potensi kenaikan harga WTI dapat tertahan oleh kemungkinan tercapainya kesepakatan damai untuk mengakhiri konflik di Ukraina. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menyatakan pada Senin bahwa pembicaraan antara Amerika Serikat dan Ukraina terkait upaya mengakhiri perang dengan Rusia berlangsung sangat “konstruktif.”
Sumber: fxstreet
Bagikan Berita Ini