• company.vifxjogja@gmail.com
  • (0274) 2924181
News Photo

Emas Kembali Bersinar, Capai Level Tertinggi Tujuh Minggu

Harga emas kembali mencatat kenaikan dan menembus level tertinggi dalam tujuh pekan pada perdagangan Jumat (12/12/2025). Penguatan ini didorong oleh ekspektasi penurunan suku bunga serta melemahnya nilai dolar Amerika Serikat (AS). Mengutip CNBC internasional, kondisi berbeda terjadi pada perak yang justru mengalami penurunan tajam setelah sebelumnya mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH).

Harga emas menguat 0,53% dan ditutup di level US$ 4.299,4 per ons, setelah sempat menyentuh posisi tertinggi sejak 21 Oktober 2025. Sepanjang tahun 2025, emas telah mencatat kenaikan sebesar 63,66%. Adapun rekor tertinggi harga emas berada di US$ 4.381,18 per ons yang tercapai pada 20 Oktober 2025.

Kenaikan harga emas terjadi di tengah pergerakan dolar AS yang relatif stabil setelah melemah dalam beberapa sesi sebelumnya. Biasanya, penguatan dolar membuat logam mulia berdenominasi dolar menjadi kurang menarik bagi investor luar negeri.

Faktor suku bunga juga turut menopang harga emas. Pekan ini, The Fed kembali memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin untuk ketiga kalinya sepanjang tahun, meski bank sentral AS memberikan sinyal kehati-hatian terkait kemungkinan pemangkasan lanjutan hingga tersedia data ekonomi tambahan.

Pelaku pasar kini memperkirakan The Fed akan melakukan dua kali penurunan suku bunga pada tahun depan, sembari menantikan rilis data non-farm payrolls AS yang dijadwalkan pekan depan. Sebagai aset tanpa imbal hasil, emas umumnya berkinerja lebih baik di tengah lingkungan suku bunga rendah.

Global Head of Commodity Strategy TD Securities, Bart Melek, menilai prospek emas tetap solid dalam jangka panjang. Ia memproyeksikan rata-rata harga emas pada 2026 berada di kisaran US$ 4.213 per ons.

Sementara itu, harga perak mengalami tekanan signifikan setelah sebelumnya mencatat rekor tertinggi. Logam mulia tersebut merosot 2,53% dan ditutup di US$ 61,83 per ons, setelah sempat menyentuh level tertinggi di US$ 64,63 pada awal sesi perdagangan.

Melek menjelaskan bahwa aksi ambil untung, sedikit penguatan dolar AS, serta pasar yang mulai melepas tekanan setelah reli tajam menjadi faktor utama pelemahan harga perak.

Meski demikian, secara mingguan harga perak masih mencatat kenaikan hampir 5% dan telah melonjak sekitar 112% sepanjang tahun ini. Kenaikan signifikan tersebut ditopang oleh ketatnya pasokan global, permintaan industri yang tetap kuat, serta masuknya perak ke dalam daftar mineral kritis AS.

Lembaga riset CMZ mengingatkan bahwa lonjakan harga perak saat ini tergolong berlebihan sehingga memerlukan kewaspadaan. Namun, secara fundamental, prospek jangka panjang perak tetap dinilai positif seiring potensi peningkatan permintaan industri.

Di sisi geopolitik, Amerika Serikat dilaporkan tengah bersiap meningkatkan upaya pencegatan terhadap kapal-kapal pengangkut minyak Venezuela, menyusul penyitaan sebuah tanker pekan ini, sebagai bagian dari tekanan terhadap pemerintahan Presiden Nicolas Maduro.

Sumber: investor.id

Bagikan Berita Ini

Komentar

Apakah Anda ingin mendapatkan layanan berkualitas kami untuk Investasi?