• company.vifxjogja@gmail.com
  • (0274) 2924181
News Photo

Data Ketenagakerjaan Positif, Harga Emas Ikut Terkoreksi

Harga emas dunia bergerak turun pada perdagangan Kamis (20/11/2025), setelah data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) untuk periode September menunjukkan hasil lebih kuat dari prediksi. Rilis ini semakin mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve pada Desember, sehingga menekan minat terhadap emas.

Harga emas spot tercatat melemah 0,08% dan ditutup di posisi US$ 4.077,16 per ons.

Menurut Reuters, penguatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang global membuat harga emas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli dari luar negeri.

Data yang dirilis Departemen Tenaga Kerja AS—yang sempat tertunda akibat penutupan pemerintahan—melaporkan kenaikan nonfarm payrolls sebanyak 119 ribu pada September, lebih dari dua kali proyeksi sebelumnya yaitu 50 ribu.

“Data ini sesuai dengan pandangan The Fed pada Oktober bahwa pasar tenaga kerja memang melambat, namun masih relatif solid. Dengan rilis ini, peluang penurunan suku bunga The Fed pada Desember semakin mengecil,” ujar Vice President dan Senior Metals Strategist Zaner Metals, Peter Grant.

Saat ini pelaku pasar memperkirakan kemungkinan pemangkasan suku bunga bulan depan berada di kisaran 40%. Emas sebagai aset tanpa imbal hasil biasanya mendapatkan dukungan saat suku bunga lebih rendah, sehingga prospek penundaan penurunan suku bunga menahan sentimen positif pasar.

Pada laporan ketenagakerjaan terbaru, Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) membatalkan rilis data Oktober dan akan menggabungkannya dengan data November. Laporan gabungan tersebut dijadwalkan terbit pada 16 Desember, setelah pertemuan kebijakan The Fed berikutnya.

Dari sisi kebijakan moneter, risalah rapat The Fed Oktober yang dirilis Rabu (19/11/2025) menunjukkan para pengambil kebijakan memutuskan menurunkan suku bunga meski menyadari langkah tersebut memiliki risiko memicu inflasi dan menurunkan tingkat kepercayaan publik terhadap bank sentral.

Sepanjang tahun ini, emas—yang dikenal sebagai aset lindung nilai—telah naik 55% dan bahkan sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah di US$ 4.381,22 pada 20 Oktober.

Meski tengah berkonsolidasi, UBS menaikkan proyeksi harga emas untuk pertengahan 2026 sebesar US$ 300 menjadi US$ 4.500 per ons. Revisi ini dipicu ekspektasi penurunan suku bunga AS, ketegangan geopolitik yang masih berlanjut, serta kuatnya permintaan dari bank sentral dan ETF.

sumber : investor.id

Bagikan Berita Ini

Komentar

Apakah Anda ingin mendapatkan layanan berkualitas kami untuk Investasi?