Harga emas dunia merosot lebih dari 1% pada perdagangan Selasa (4/11/2025), seiring dengan penguatan dolar Amerika Serikat (AS) yang mencapai posisi tertinggi dalam tiga bulan terakhir. Para investor memilih bersikap hati-hati menjelang rilis data tenaga kerja AS, yang diperkirakan akan memberikan sinyal arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).Harga emas spot turun tajam 1,69% dan ditutup di level US$ 3.931,86 per ons.Menurut laporan Reuters, indeks dolar AS menanjak ke puncak tiga bulan terakhir, membuat harga emas yang dihitung dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.
Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures, David Meger, menjelaskan bahwa penguatan dolar yang berkelanjutan memberi tekanan tambahan pada pasar emas. Ia menambahkan, “Kenaikan dolar dan pelemahan harga emas belakangan ini juga dipicu oleh menurunnya ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed pada Desember mendatang.”
Meski bank sentral AS memangkas suku bunga pada pekan lalu, Ketua The Fed Jerome Powell memberi sinyal bahwa langkah tersebut kemungkinan menjadi pemangkasan terakhir tahun ini. Berdasarkan data CME FedWatch, peluang penurunan suku bunga pada pertemuan 9–10 Desember turun menjadi 71%, dari sebelumnya lebih dari 90%.
Sebagai aset tanpa imbal hasil bunga, emas biasanya menguat ketika suku bunga rendah dan kondisi ekonomi tidak pasti. Namun, ketidakpastian tambahan muncul akibat potensi penutupan (shutdown) pemerintahan AS yang berlarut-larut, yang bisa menunda rilis data ekonomi resmi.Kini, pelaku pasar menantikan laporan dari sektor swasta, seperti data ketenagakerjaan nasional ADP yang akan dirilis pada Rabu (5/11/2025).Analis Rhona O’Connell dari StoneX menilai bahwa koreksi harga emas saat ini masih tergolong wajar setelah reli besar sepanjang tahun.
“Meski momentum emas sempat melemah, logam mulia ini masih mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap independensi The Fed, potensi stagflasi, serta meningkatnya ketegangan geopolitik global,” tulisnya dalam laporan riset.Sepanjang 2025, harga emas telah melonjak sekitar 53%, namun kini terkoreksi lebih dari 9% dari rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) di US$ 4.381,18 per ons troi, yang tercatat pada 20 Oktober 2025.
Bagikan Berita Ini