Harga minyak mentah acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), mengalami pelemahan setelah mencatat kenaikan selama tiga hari berturut-turut. Pada Jumat (24/10/2025) pukul 13.10 WIB, WTI diperdagangkan di sekitar US$ 61,56 per barel. Meski melemah, harga minyak masih bergerak di level tertinggi dalam dua minggu terakhir dan berada di jalur kenaikan mingguan, didorong kekhawatiran terhadap pasokan global akibat sanksi baru Amerika Serikat terhadap dua perusahaan minyak terbesar Rusia.
Pemerintah AS menetapkan Rosneft dan Lukoil, dua perusahaan energi raksasa milik Rusia, ke dalam daftar hitam sebagai bagian dari tekanan terhadap Presiden Vladimir Putin terkait invasi ke Ukraina. Kedua perusahaan tersebut diketahui berkontribusi hampir 50% dari ekspor minyak Rusia dan lebih dari 5% produksi minyak dunia, menjadikannya pilar penting dalam pendanaan pemerintah Rusia.
Menurut laporan Reuters, perusahaan minyak milik negara China telah menghentikan sementara pembelian minyak Rusia melalui jalur laut. Sementara itu, penyulingan di India berencana memangkas impor minyak dari Rusia secara signifikan guna mematuhi kebijakan baru yang diterapkan AS.
Di sisi lain, Uni Eropa (UE) juga memperluas sanksinya dengan menargetkan infrastruktur energi Rusia. Dalam waktu bersamaan, pasukan Ukraina melanjutkan serangan terhadap kilang, jaringan pipa, dan terminal ekspor Rusia, termasuk kilang milik Rosneft yang diklaim berhasil diserang pada Kamis.
Pemerintah AS menyatakan kesiapannya untuk memberlakukan langkah tambahan bila diperlukan. Namun, Presiden Vladimir Putin menilai kebijakan tersebut bersifat tidak bersahabat dan menegaskan bahwa dampaknya terhadap ekonomi Rusia akan terbatas, mengingat peran penting negara itu dalam pasar energi global.
Sementara itu, Menteri Minyak Kuwait menyampaikan bahwa Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) siap menanggapi potensi gangguan pasokan dengan meninjau ulang kebijakan pemangkasan produksi jika situasi pasar memerlukannya.
sumber : fxstreet
Bagikan Berita Ini