• company.vifxjogja@gmail.com
  • (0274) 2924181
News Photo

Harga Emas Sentuh $3.600, Perpanjang Tren Rekor Tertinggi

Harga emas dunia kembali melanjutkan reli dan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) pada perdagangan Selasa (9/9/2025) pagi. Penguatan ini dipicu pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) dan turunnya imbal hasil obligasi, seiring meningkatnya ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) akan memangkas suku bunga pada September. Harga emas naik ke US$ 3.647,54 per troy ons pada pukul 13.40 WIB, setelah sempat menembus level rekor baru di US$ 3.659,10. Rekor sebelumnya tercatat di US$ 3.646,24 pada perdagangan Senin (8/9/2025).

Menurut Chief Market Analyst KCM Trade, Tim Waterer, peluang kenaikan emas masih terbuka luas. “Harga emas masih berpotensi menguat lebih jauh, asalkan bank sentral AS memenuhi ekspektasi pasar terkait pemangkasan suku bunga ganda,” ujarnya dikutip Reuters.

Pasar semakin yakin pemangkasan suku bunga akan terjadi setelah data ketenagakerjaan AS menunjukkan perlambatan tajam pada Agustus. Pertumbuhan lapangan kerja merosot, sementara tingkat pengangguran naik ke 4,3%—tertinggi dalam hampir empat tahun.

CME FedWatch Tool mencatat pasar kini memperkirakan 89,4% peluang The Fed memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin, dan 10,6% kemungkinan pemangkasan lebih agresif sebesar 50 basis poin.

Suku bunga yang lebih rendah biasanya melemahkan dolar AS dan menekan imbal hasil obligasi, sehingga meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai. Saat ini, indeks dolar jatuh ke posisi terendah dalam hampir tujuh pekan, sementara imbal hasil obligasi tenor 10 tahun merosot ke titik terendah dalam lima bulan.

Investor kini menantikan rilis data inflasi produsen (PPI) pada Rabu dan inflasi konsumen (CPI) pada Kamis. “Jika data inflasi lebih lemah dari perkiraan, The Fed bisa semakin dovish, dan harga emas berpotensi menembus level psikologis US$ 3.700,” tambah Waterer.

Sepanjang tahun berjalan 2025, harga emas sudah melonjak 38% setelah naik 27% pada 2024. Reli ini didorong oleh pelemahan dolar, aksi beli bank sentral, kebijakan moneter longgar, serta ketidakpastian global yang terus berlanjut.

 

sumber : investor.id

Bagikan Berita Ini

Komentar

Apakah Anda ingin mendapatkan layanan berkualitas kami untuk Investasi?