• company.vifxjogja@gmail.com
  • (0274) 2924181
News Photo

Stabilnya Hubungan AS-China Dorong Penurunan Harga Emas Global

Harga emas dunia terus melemah dan kini berada pada titik terendah dalam lebih dari sebulan terakhir. Kondisi ini dipicu oleh meredanya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan China, yang menyebabkan turunnya permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven.

Pada perdagangan hari Senin (30/6) pukul 06.37 WIB, harga emas di pasar spot tercatat turun 0,16% ke level US$3.267,79 per troy ons. Ini merupakan level terendah sejak 19 Mei 2025. Sebelumnya, pada Jumat (27/6), harga emas sudah turun tajam sebesar 1,65% ke posisi US$3.272,99 per troy ons. Sepanjang minggu lalu, logam mulia ini sudah tertekan hingga anjlok 2,82%.

Penurunan emas pada Jumat lalu hampir menyentuh 2%, yang juga mencatatkan rekor terendah dalam sebulan. Pendorong utama pelemahan ini adalah membaiknya hubungan dagang AS-China, yang mendorong naiknya minat investor terhadap aset berisiko dan mengurangi minat terhadap emas.

Daniel Pavilonis, analis senior di RJO Futures, menyebut bahwa meredanya ketegangan geopolitik memberikan kesempatan bagi investor untuk merealisasikan keuntungan, seiring berkurangnya kekhawatiran terhadap perang terbuka dengan China maupun konflik di Timur Tengah.

Kesepakatan dagang antara AS dan China yang dicapai pada Kamis, khususnya terkait percepatan pengiriman mineral tanah jarang ke AS, dianggap sebagai perkembangan positif oleh pasar. Hal ini turut mendongkrak bursa saham global. Sementara itu, gencatan senjata antara Iran dan Israel juga masih berlangsung stabil setelah sebelumnya terjadi beberapa ketegangan.

Dari sisi data ekonomi, belanja konsumen AS secara mengejutkan menurun pada bulan Mei. Hal ini terjadi setelah lonjakan pembelian barang-barang tertentu sebelum pemberlakuan tarif baru, sementara inflasi tetap dalam batas moderat.

Pasar kini memperkirakan The Federal Reserve (The Fed) akan memangkas suku bunga sebanyak 75 basis poin mulai September 2025. Namun, data ekonomi ini belum cukup kuat mengangkat harga emas yang sudah lebih dulu tertekan karena faktor geopolitik dan teknikal.

Stabilnya kondisi geopolitik dan ekonomi global, ditambah suku bunga tinggi, membuat emas sebagai aset non-yielding (tidak memberikan imbal hasil) menjadi kurang menarik bagi investor. Tekanan semakin berat setelah harga emas menembus level psikologis US$3.300, yang selama ini menjadi titik support penting.

Jika tren penurunan berlanjut, harga emas diperkirakan dapat turun hingga US$3.166, yang merupakan koreksi teknikal 50% dari kisaran harga sebelumnya di US$2.956,56 hingga US$3.500,20.

Merosotnya harga emas dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan bahwa lonjakan harga sebelumnya banyak didorong oleh premi risiko geopolitik, yang kini mulai menghilang. Sikap The Fed yang tetap agresif (hawkish), inflasi yang menekan ekspektasi pemangkasan suku bunga, dan pelemahan teknikal memperkuat tekanan negatif terhadap emas dalam jangka pendek. Potensi pemulihan harga hanya terbuka jika ketegangan geopolitik kembali memanas atau inflasi AS meningkat signifikan hingga memaksa The Fed mengubah kebijakan moneternya.

https://www.cnbcindonesia.com/research/20250630055122-128-644759/dunia-kini-bertanya-tanya-kapan-emas-kembali-perkasa

Bagikan Berita Ini

Komentar

Apakah Anda ingin mendapatkan layanan berkualitas kami untuk Investasi?