• company.vifxjogja@gmail.com
  • (0274) 2924181
News Photo

Gencatan Senjata Timur Tengah Tekan Permintaan Safe Haven

Harga emas dunia anjlok tajam dan menyentuh titik terendah dalam dua pekan terakhir setelah tercapainya kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Iran, yang mengurangi daya tarik emas sebagai aset safe haven. Bahkan penurunan ini tetap terjadi meskipun dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS juga melemah.

Pada perdagangan Selasa (24/6), harga emas dunia turun sebesar 1,33% menjadi US$3.323,75 per troy ons — level terendah sejak 10 Juni 2025. Sementara pada Rabu pagi (25/6) pukul 06.43 WIB, harga emas di pasar spot sedikit turun 0,03% ke posisi US$3.322,80 per troy ons.

Penurunan ini disebabkan oleh meningkatnya minat pasar terhadap aset berisiko, seiring dengan optimisme terhadap kemungkinan meredanya konflik di Timur Tengah. Menurut Ricardo Evangelista, analis senior di ActivTrades, penurunan ini mencerminkan pergeseran selera pasar. Namun, ia menilai harga emas masih memiliki level support kuat di kisaran US$3.300.

Di sisi lain, penguatan pasar saham global dan penurunan harga minyak juga memperkuat sentimen risiko setelah pengumuman gencatan senjata. Namun, situasi belum sepenuhnya mereda karena Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menginstruksikan militer untuk menyerang Teheran, menuding Iran melanggar kesepakatan gencatan senjata.

Kondisi pasar emas semakin tertekan setelah pernyataan Ketua The Fed, Jerome Powell, yang menyiratkan bahwa pemangkasan suku bunga belum akan terjadi dalam waktu dekat. Dalam testimoninya di hadapan Komite Jasa Keuangan DPR AS, Powell menyebut pihaknya masih menunggu dampak ekonomi dari kebijakan tarif yang diusulkan Presiden Trump.

Padahal, emas biasanya mendapat dukungan dari lingkungan suku bunga rendah karena tidak memberikan imbal hasil. Sementara itu, investor masih mengantisipasi adanya penurunan suku bunga sebesar 57 basis poin sebelum akhir tahun 2025.

Menurut laporan ANZ, harga emas kemungkinan akan mengalami konsolidasi dalam jangka pendek, namun berpotensi kembali naik hingga menyentuh US$3.600 per troy ons pada akhir tahun. Setelah itu, ANZ memperkirakan harga emas akan menurun perlahan pada 2026 seiring membaiknya kondisi ekonomi global dan meredanya ketidakpastian perdagangan.

Meskipun dolar AS dan imbal hasil Treasury 10 tahun melemah — yang biasanya menjadi faktor pendukung kenaikan harga emas — logam mulia ini tetap tertekan. Indeks dolar AS ditutup pada 97,858, level terendah sejak Maret 2022, sementara imbal hasil Treasury jatuh ke 4,29%, titik terendah sejak awal Mei 2025.

CNBC

Bagikan Berita Ini

Komentar

Apakah Anda ingin mendapatkan layanan berkualitas kami untuk Investasi?