• company.vifxjogja@gmail.com
  • (0274) 2924181
News Photo

Ketegangan Timur Tengah Dorong Harga Minyak Naik Lebih dari 10%

Harga minyak dunia mengalami lonjakan signifikan pada Jumat (13 Juni 2025) waktu Indonesia, menyusul serangan militer Israel ke Iran yang memicu kekhawatiran terganggunya suplai dari kawasan Timur Tengah — wilayah krusial dalam rantai pasokan minyak global.

Berdasarkan data CNBC, harga minyak Brent untuk kontrak Agustus 2025 naik tajam sebesar 10,74% menjadi US$76,81 per barel. Sementara itu, minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Juli 2025 melonjak 11,08% ke angka US$75,58 per barel.

Kenaikan ini menjadi yang tertinggi dalam lebih dari dua bulan terakhir dan menjadi pembalikan tajam dari tren penurunan yang terjadi sepanjang Mei hingga awal Juni 2025.

Kementerian Pertahanan Israel mengonfirmasi bahwa mereka telah meluncurkan serangan terhadap "puluhan target strategis" di Iran. Serangan ini disebut sebagai langkah pre-emptive terhadap program nuklir Iran yang dinilai mengancam stabilitas kawasan.

Media Iran melaporkan terdengarnya sejumlah ledakan di Teheran. Beberapa tokoh penting dilaporkan tewas, termasuk Mayor Jenderal Hossein Salami (Komandan Garda Revolusi Iran) serta dua ilmuwan nuklir senior, Fereydoun Abbasi-Davani dan Mohammad Mehdi Tehranchi.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa tujuan serangan tersebut adalah untuk menghancurkan infrastruktur nuklir, fasilitas rudal balistik, dan jaringan militer strategis Iran.

Ketegangan antara dua kekuatan utama di Timur Tengah ini langsung mengguncang pasar energi global. Kawasan tersebut mencakup beberapa negara anggota OPEC+ seperti Iran, Irak, dan Arab Saudi, yang secara kolektif menyuplai hampir sepertiga dari produksi minyak dunia.

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa tindakan Israel "sangat mungkin terjadi", namun meminta sekutunya untuk menahan diri selama negosiasi nuklir dengan Iran masih berlangsung. Di saat yang sama, AS juga memperingatkan Iran agar tidak menyerang kepentingan Amerika dan mulai mempersiapkan evakuasi staf diplomatik dari kawasan.

Iran pun merespons dengan ancaman balasan dan menyatakan akan membangun fasilitas pengayaan uranium baru, memperburuk hubungan dengan Washington.

Kenaikan harga minyak ini diperkirakan belum akan mereda dalam waktu dekat, terutama jika konflik berkembang menjadi perang terbuka. Namun, pelaku pasar juga mengamati potensi langkah dari negara produsen lainnya dan perkembangan data ekonomi global.

CNBC

 

Bagikan Berita Ini

Komentar

Apakah Anda ingin mendapatkan layanan berkualitas kami untuk Investasi?