Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami pelemahan setelah indeks dolar AS menguat, didorong oleh data ekonomi yang lebih baik dari perkiraan dan kembalinya aktivitas pasar pasca libur panjang.
Berdasarkan data Refinitiv, pada Rabu (28 Mei), rupiah dibuka melemah sebesar 0,03% di posisi Rp16.275 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar (DXY) tercatat naik 0,15% menjadi 99,67 pada pukul 09.00 WIB. Ini merupakan penguatan ketiga secara berturut-turut bagi dolar AS.
Penguatan dolar terjadi setelah libur nasional di AS dan Inggris berakhir, ditambah lagi dengan meningkatnya data kepercayaan konsumen. Indeks kepercayaan konsumen versi The Conference Board pada Mei naik signifikan sebesar 12,3 poin menjadi 98, dari sebelumnya 85,7 pada April, yang merupakan angka terendah sejak Mei 2020.
Ekspektasi masyarakat AS terhadap pendapatan, kondisi ekonomi, dan pasar kerja dalam jangka pendek juga meningkat 17,4 poin menjadi 72,8. Namun angka ini masih di bawah 80, ambang batas yang sering dikaitkan dengan kemungkinan resesi.
Meski demikian, kekhawatiran pasar masih ada akibat ketidakpastian kebijakan perdagangan dan fiskal pemerintahan Trump. Tarif impor yang tinggi dan rencana pemotongan pajak yang masih dalam pembahasan di Kongres menjadi sorotan utama. RUU pemotongan pajak Trump telah lolos dari DPR dan kini sedang dibahas di Senat, dengan potensi memperbesar defisit anggaran yang dapat berdampak negatif pada peringkat kredit AS.
Beberapa kebijakan perdagangan juga menciptakan dinamika pasar, seperti penundaan tarif terhadap Uni Eropa hingga 9 Juli dan kesepakatan dagang dengan Inggris dan Tiongkok. Ekonom senior Stephanie Guichard dari The Conference Board menyebutkan bahwa pemulihan ekonomi AS sudah terlihat bahkan sebelum kesepakatan dengan Tiongkok pada 12 Mei dan semakin menguat setelahnya.
Pasar kini menantikan data ekonomi lanjutan, seperti laporan barang tahan lama, sektor perumahan, serta pidato dari dua pejabat Federal Reserve—Presiden Fed Minneapolis Neel Kashkari dan Presiden Fed New York John Williams—yang dapat memberikan pandangan lebih lanjut terhadap arah kebijakan moneter.
Bagikan Berita Ini