• company.vifxjogja@gmail.com
  • (0274) 2924181
News Photo

Pelemahan Dolar dan RUU Utang AS Dorong Permintaan Emas

Harga emas global kembali melonjak tajam dan mampu bertahan di atas level psikologis US$3.300 per troy ons. Lonjakan harga ini diprediksi akan terus berlanjut didorong oleh tiga faktor utama: ancaman tarif baru dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump, ketidakstabilan ekonomi AS, dan meningkatnya ketegangan geopolitik antara Rusia dan Ukraina. Ketiga hal tersebut mendorong investor untuk beralih ke aset safe haven seperti emas.

Pada perdagangan Senin pagi (26 Mei) hingga pukul 06.26 WIB, harga emas di pasar spot melemah 0,32% ke posisi US$3.346,38 per troy ons. Namun, pada perdagangan sebelumnya, Jumat (23 Mei), emas naik signifikan sebesar 1,91% dan ditutup di US$3.356,99 per troy ons, berhasil menembus level psikologis US$3.200.

Kenaikan hampir 2% pada hari Jumat menjadikan minggu lalu sebagai pekan terbaik emas dalam enam minggu terakhir. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya minat investor terhadap aset safe haven, di tengah pelemahan dolar AS dan kekhawatiran terhadap kebijakan baru Trump.

Pada hari yang sama, indeks dolar AS (DXY) turun tajam 0,85% menjadi 99,11 — level terendah sejak 29 April 2025. Pelemahan dolar membuat emas yang dihargakan dalam dolar menjadi lebih murah bagi investor luar negeri.

"Trump benar-benar agresif dalam 24 jam terakhir, mulai dari mengancam tarif 50% terhadap Uni Eropa, menyerang Apple, hingga menyudutkan Harvard. Semua ini berdampak negatif pada pasar saham, tetapi justru menjadi kabar baik bagi emas," ujar Tai Wong, seorang pedagang logam independen.

Ia menambahkan bahwa kekhawatiran mengenai tarif yang muncul di tengah kondisi perdagangan dengan likuiditas rendah menjelang libur panjang bisa memicu pergerakan besar di pasar.

Pasar saham global juga tertekan akibat rencana Trump mengenakan tarif 50% atas produk impor dari Uni Eropa mulai 1 Juni, serta ancaman tarif 25% terhadap iPhone yang dijual di AS.

Selain itu, emas juga mendapat dukungan dari kekacauan ekonomi di AS. Pada Kamis (22 Mei), DPR AS yang dikuasai Partai Republik meloloskan RUU pajak dan belanja yang diperkirakan akan menambah triliunan dolar ke dalam utang nasional.

RUU tersebut mencakup kenaikan anggaran untuk penegakan hukum imigrasi dan militer, serta perpanjangan pemotongan pajak 2017 yang seharusnya berakhir tahun ini. Namun, di sisi lain, ada pemotongan untuk Medicaid, bantuan pangan, dan dana energi bersih. Meski begitu, Senat menyatakan bahwa RUU ini perlu direvisi sebelum disetujui.

Menurut Kantor Anggaran Kongres (CBO), RUU ini diperkirakan akan menambah sekitar US$3,8 triliun ke utang nasional selama sepuluh tahun ke depan. Hal ini memperburuk situasi setelah Moody's menurunkan peringkat kredit AS dari Aaa menjadi Aa1 karena kekhawatiran akan lonjakan utang.

Ketidakpastian ekonomi dan geopolitik ini mendorong daya tarik emas sebagai aset pelindung nilai. "Jika harga emas menembus US$3.500, bukan tak mungkin kita akan melihat lonjakan hingga US$3.800," ujar Daniel Pavilonis, analis pasar senior di RJO Futures.

Bagikan Berita Ini

Komentar

Apakah Anda ingin mendapatkan layanan berkualitas kami untuk Investasi?