Harga emas dunia mengalami koreksi setelah mencatatkan lonjakan tajam selama tiga hari berturut-turut. Penurunan harga ini disebabkan oleh penguatan nilai tukar dolar AS dan aksi ambil untung dari para investor.
Pada perdagangan Kamis (22 Mei), harga emas global turun sebesar 0,60% menjadi US$ 3.294,09 per troy ons, mengakhiri tren kenaikan tiga harinya. Penurunan ini juga membuat harga emas kembali turun di bawah level psikologis US$ 3.300 per troy ons.
Namun, pada perdagangan Jumat pagi (23 Mei) hingga pukul 06.28 WIB, harga emas di pasar spot tercatat menguat tipis sebesar 0,14% ke posisi US$ 3.298,81 per troy ons.
Penurunan harga emas pada Kamis terjadi karena menguatnya dolar AS dan aksi taking profit setelah harga sempat menyentuh level tertinggi dalam dua pekan di awal sesi perdagangan. Indeks dolar AS pada Kamis menguat 0,40% ke level 99,96 setelah sebelumnya melemah selama tiga hari.
Menurut Jim Wycoff, analis senior di Kitco Metals, tekanan jual dari aksi ambil untung dan penguatan dolar menjadi dua faktor utama yang menekan harga emas. Meski demikian, ketidakstabilan di pasar obligasi global dinilai bisa menjadi faktor pendukung yang menahan pelemahan harga emas lebih lanjut.
Sementara itu, para pelaku pasar terus mencermati dinamika utang global, terutama setelah DPR AS menyetujui rancangan undang-undang pajak usulan Presiden Donald Trump, yang diperkirakan akan menambah beban utang pemerintah sebesar US$ 3,8 triliun dalam satu dekade ke depan.
Emas kerap dijadikan sebagai aset lindung nilai ketika terjadi ketidakpastian politik dan ekonomi. Data terbaru menunjukkan peningkatan aktivitas bisnis di AS pada bulan Mei, di tengah meredanya ketegangan perang dagang antara AS dan China. Namun, tarif impor yang tinggi tetap memicu kenaikan harga bagi perusahaan dan konsumen.
Zain Vawda, analis dari MarketPulse by OANDA, menyebutkan bahwa kesepakatan dagang yang kemungkinan akan diumumkan dalam beberapa minggu ke depan berpotensi memengaruhi pergerakan harga emas sepanjang sisa tahun ini.
Bagikan Berita Ini