• company.vifxjogja@gmail.com
  • (0274) 2924181
News Photo

Dolar AS Tipis Naik, Tapi Rupiah Lebih Ngebut

Nilai tukar rupiah tercatat mengalami penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan, serta di tengah penantian publik terhadap rilis data transaksi berjalan pada kuartal I tahun 2025.

Berdasarkan data dari Refinitiv, pada Kamis (22/5) pagi, rupiah dibuka menguat di level Rp16.315 per dolar AS, naik 0,46%. Dalam dua menit pertama perdagangan, rupiah kembali menguat menjadi Rp16.300 per dolar AS atau meningkat 0,55%.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) naik tipis sebesar 0,01% ke level 99,57 pada pukul 08:59 WIB, sedikit lebih tinggi dibandingkan penutupan hari sebelumnya yang berada di posisi 99,56.

Stabilitas nilai tukar rupiah dalam beberapa hari terakhir menjadi salah satu faktor yang membuka ruang bagi BI untuk menurunkan suku bunga acuan. BI pun menurunkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,50%. Selain itu, suku bunga Deposit Facility dipangkas menjadi 4,75%, dan Lending Facility menjadi 6,25%.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, dalam konferensi pers pada Rabu (21/5), menyatakan bahwa langkah tersebut diambil sesuai dengan proyeksi inflasi 2025 dan 2026 yang tetap rendah dan terkendali di kisaran 2,5% ±1%, serta untuk menjaga kestabilan nilai tukar rupiah dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

“BI akan terus menjaga inflasi tetap dalam target dan menyesuaikan nilai tukar rupiah dengan fundamental ekonomi, sambil memperhatikan perkembangan terkini dan mendorong pertumbuhan ekonomi sesuai dinamika yang ada,” jelas Perry.

Meski demikian, perhatian hari ini juga tertuju pada data transaksi berjalan kuartal I-2025, yang diperkirakan kembali mencatat defisit. Data ini menjadi indikator penting dalam menilai daya saing internasional, kemampuan negara membayar utang luar negeri, serta gambaran umum kondisi ekonomi nasional.

Sebagai informasi, defisit transaksi berjalan pada kuartal terakhir tahun lalu merupakan defisit selama tujuh kuartal berturut-turut, dengan nilai setara 0,3% dari produk domestik bruto (PDB).

CNBC

 

Bagikan Berita Ini

Komentar

Apakah Anda ingin mendapatkan layanan berkualitas kami untuk Investasi?