• company.vifxjogja@gmail.com
  • (0274) 2924181
News Photo

Harga Emas Sentuh US$3.177, Level Terendah Sejak April 2025

Harga emas dunia jatuh ke posisi terendah dalam satu bulan terakhir. Penurunan ini terjadi seiring meredanya ketegangan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China, serta optimisme terhadap prospek pertumbuhan ekonomi AS yang lebih tinggi. Situasi ini mendorong para investor untuk keluar dari instrumen safe haven seperti emas dan beralih ke aset berisiko, sehingga harga emas turun dari level psikologis US$3.200 per troy ons.

Pada perdagangan Rabu (14 Mei), harga emas dunia merosot 2,15% ke posisi US$3.177,55 per troy ons. Ini merupakan penurunan terbesar dalam sebulan terakhir dan pertama kalinya harga emas berada di bawah US$3.200 sejak 9 April 2025. Namun, pada Kamis pagi (15 Mei) pukul 06.20 WIB, harga emas sedikit menguat 0,15% menjadi US$3.183,4 per troy ons di pasar spot.

Penurunan harga emas lebih dari 2% pada Rabu mencerminkan menurunnya ketidakpastian pasar setelah mencuatnya kabar positif dari negosiasi perdagangan AS-China. Hal ini membuat minat terhadap emas sebagai aset pelindung risiko menurun.

Tai Wong, seorang pedagang logam independen, menjelaskan bahwa koreksi harga emas dipicu oleh penurunan tajam tarif antara AS dan China. Sementara itu, indeks utama Wall Street mengalami penguatan dua hari berturut-turut sejak adanya kesepakatan pengurangan tarif antara kedua negara. Para investor mulai beralih dari emas ke saham dan aset berisiko lainnya.

Washington dan Beijing sepakat untuk memangkas tarif secara signifikan dan menerapkan masa jeda selama 90 hari sambil merampungkan detail kesepakatan dagang. Presiden AS Donald Trump menyatakan dalam wawancara pada Selasa (13 Mei) bahwa ia tengah menjalin komunikasi langsung dengan Presiden China Xi Jinping terkait detail perjanjian, serta tengah merumuskan kesepakatan potensial dengan India, Jepang, dan Korea Selatan.

Kesepakatan pengurangan tarif diumumkan pada Senin (12 Mei), dengan AS menurunkan tarif atas barang China menjadi 30% dari sebelumnya 145%, sementara China memangkas bea impor dari AS menjadi 10% dari 125%.

Emas sempat mencetak rekor tertinggi sebesar US$3.500,05 bulan lalu, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik. Sepanjang tahun ini, harga emas telah menguat sebesar 21,2%. Namun, analis pasar Fawad Razaqzada dari City Index dan FOREX.com menilai bahwa meskipun tren jangka panjang masih positif, tekanan penurunan bisa berlanjut dalam beberapa hari ke depan. Ia memperkirakan target penurunan berikutnya berada di kisaran US$3.136, lalu US$3.073, dan selanjutnya US$3.000.

Pasar kini menantikan rilis data indeks harga produsen (PPI) AS sebagai acuan untuk mengukur arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed). Suku bunga rendah biasanya meningkatkan daya tarik emas, karena emas tidak memberikan imbal hasil tetap.

Di sisi lain, proyeksi pertumbuhan ekonomi dari Goldman Sachs turut menekan harga emas. Lembaga keuangan ini meningkatkan prediksi pertumbuhan ekonomi China dan AS, sekaligus menurunkan risiko resesi AS. Goldman memperkirakan PDB China akan tumbuh 4,6% tahun ini dan 3,8% pada 2026, lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya. Ekspor riil China pun diperkirakan stabil, berbeda dengan perkiraan sebelumnya yang mencatat penurunan 5%.

Goldman juga memangkas peluang resesi AS dalam 12 bulan menjadi 35% dari 45% sebelumnya, dan menaikkan proyeksi pertumbuhan PDB AS kuartal keempat 2025 dari 0,5% menjadi 1,0%.

Prospek pertumbuhan dua ekonomi terbesar dunia ini memperkuat sentimen risiko dan membuat investor lebih memilih instrumen berisiko seperti saham, yang diyakini memiliki prospek imbal hasil lebih baik ke depan.

CNBC

 

Bagikan Berita Ini

Komentar

Apakah Anda ingin mendapatkan layanan berkualitas kami untuk Investasi?