Mata uang Dolar Amerika Serikat (AS) telah menjadi acuan utama bagi mata uang lainnya di dunia. Kekuatan Dolar AS begitu besar, sehingga banyak negara sangat bergantung padanya. Menteri Keuangan Sri Mulyani menjelaskan mengapa Dolar AS mampu mencapai posisi yang kuat ini. Ia menyampaikan bahwa AS memiliki beberapa keunggulan ekonomi dibandingkan negara lain.
"AS memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh ekonomi mana pun, bahkan di G7," ungkap Sri Mulyani saat memberikan kuliah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI). Menurutnya, hal pertama yang tidak bisa diabaikan adalah bahwa Amerika Serikat adalah ekonomi terbesar di dunia. Kedua, negara ini memiliki monopoli dalam banyak teknologi. Ketiga, Dolar digunakan oleh AS sebagai salah satu alat untuk memperluas pengaruh geopolitiknya.
“Dalam dominasi ekonomi mereka, Dolar berfungsi sebagai salah satu proksi kekuatan geopolitik,” tambahnya. Sri Mulyani menjelaskan bahwa hal ini terjadi karena banyak negara yang memiliki mata uang kurang kredibel. Oleh karena itu, beberapa negara secara sukarela menggunakan Dolar AS.
"Dulu, Hong Kong menggunakan Dolar Hong Kong tetapi terhubung dengan Dolar AS. Begitu juga Singapura," jelasnya. Hal serupa juga dilakukan oleh negara-negara lain, seperti Arab Saudi yang mengaitkan mata uangnya dengan Dolar AS. "Ini adalah cara yang mudah untuk mencegah inflasi dan menjaga stabilitas ekonomi, terutama bagi negara yang berdekatan dengan AS," katanya.
Namun, Sri Mulyani mencatat bahwa dominasi Dolar AS mulai berkurang. Meskipun ekonomi AS mewakili 28% dari ekonomi dunia, penggunaan Dolar perlahan-lahan turun dari 60% menjadi 50%. Penurunan ini terjadi karena munculnya kekuatan ekonomi lain yang bersaing, seperti China.
“China banyak membeli surat utang AS dan hubungan antara AS dan China semakin tak terpisahkan, inilah yang disebut kompetisi kekuatan geopolitik dan di sinilah alternatif mulai muncul,” jelasnya.
Sejarah Dolar AS menunjukkan bagaimana mata uang ini menjadi salah satu mata uang internasional terkuat. Dolar AS pertama kali dicetak pada tahun 1914 setelah pendirian bank sentral AS, Federal Reserve. Dolar AS segera menjadi mata uang cadangan dunia dalam waktu kurang dari enam dekade.
Federal Reserve didirikan pada tahun 1913 melalui Federal Reserve Act, sebagai respons terhadap ketidakstabilan sistem mata uang di AS. Pada saat itu, ekonomi AS sudah lebih unggul daripada Inggris, meskipun Inggris masih menjadi pusat perdagangan dunia dengan poundsterling sebagai mata uang utama.
Perang Dunia I yang dimulai pada tahun 1914 membuat banyak negara meninggalkan standar emas untuk membiayai pengeluaran militer mereka, yang menyebabkan devaluasi mata uang. Tiga tahun setelah perang, Inggris harus meminjam uang untuk pertama kalinya, dan AS menjadi pemberi pinjaman utama bagi negara-negara yang membeli obligasi berdenominasi Dolar.
Setelah Inggris menyerah pada standar emas pada tahun 1919, Dolar mulai menggantikan pound sebagai mata uang cadangan utama dunia. Selama Perang Dunia II, AS menjadi pemilik utama senjata dan barang-barang lain untuk Sekutu, serta menerima sebagian besar pembayaran dalam bentuk emas.
Pada tahun 1944, delegasi dari 44 negara Sekutu berkumpul di Bretton Woods, New Hampshire, untuk menciptakan sistem pengelolaan devisa yang tidak merugikan negara mana pun. Mereka memutuskan bahwa mata uang dunia tidak lagi dapat dikaitkan dengan emas, tetapi dapat dikaitkan dengan Dolar AS, yang tetap terikat pada emas. Kesepakatan ini dikenal sebagai Perjanjian Bretton Woods.
Perjanjian ini menetapkan bahwa bank sentral harus mempertahankan nilai tukar tetap antara mata uang mereka dan Dolar AS. AS berjanji untuk menukarkan Dolar dengan emas sesuai permintaan. Negara-negara memiliki kontrol tertentu atas mata uang mereka untuk mengatur fluktuasi nilai tukar.
Berkat Perjanjian Bretton Woods, Dolar AS secara resmi dinyatakan sebagai mata uang cadangan dunia, didukung oleh cadangan emas terbesar. Negara-negara lain mulai mengumpulkan cadangan Dolar AS, dan untuk menyimpan Dolar tersebut, mereka membeli surat berharga U.S. Treasury yang dianggap aman.
Saat ini, lebih dari 61% dari semua cadangan bank asing dalam bentuk Dolar AS, menurut data dari Dana Moneter Internasional (IMF). Sekitar 40% dari utang dunia juga dalam mata uang Dolar.
Bagikan Berita Ini