Harga minyak dunia terlihat stabil pada perdagangan Selasa (22/4), setelah mengalami penurunan yang cukup signifikan pada sesi sebelumnya. Tekanan ini disebabkan oleh meningkatnya ketidakpastian di pasar global, yang dipicu oleh pernyataan kontroversial Presiden AS Donald Trump mengenai kebijakan moneter The Fed, serta kekhawatiran yang terus berlanjut terkait perang dagang.
Harga minyak Brent untuk kontrak Juni ditutup pada level US$66,92 per barel, sedikit menurun dari posisi sebelumnya di US$66,26. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) ditutup di US$63,80 per barel, mengalami kenaikan tipis dari US$63,08 pada hari sebelumnya. Namun, secara keseluruhan, harga minyak masih tertekan jika dibandingkan dengan level pekan lalu yang sempat mendekati US$68.
Ketegangan semakin meningkat setelah Trump kembali mengkritik Gubernur The Fed, Jerome Powell, di awal pekan ini. Trump menuduh The Fed menghambat pertumbuhan ekonomi dan mendesak agar suku bunga segera diturunkan. Bahkan, isu pemecatan Powell kembali muncul, yang memicu aksi jual di pasar saham, obligasi, dan menekan nilai tukar dolar AS.
Situasi ini menciptakan sentimen risk-off di pasar global, mendorong investor untuk menjauh dari aset-aset berisiko, termasuk komoditas energi. Di saat yang sama, kekhawatiran pasar mengenai eskalasi perang dagang AS-China juga membebani prospek permintaan minyak global.
Selain faktor geopolitik dan kebijakan moneter, pasar juga tertekan oleh lonjakan produksi dari negara-negara anggota OPEC+ yang terjadi lebih cepat dari yang diperkirakan. Penambahan pasokan ini menimbulkan kekhawatiran akan potensi kelebihan pasokan, yang semakin memperburuk tekanan pada harga.
Hingga saat ini, harga Brent telah terkoreksi lebih dari 2% dalam dua hari terakhir. Para analis memperkirakan bahwa jika tekanan makroekonomi terus berlanjut tanpa adanya pemangkasan produksi tambahan atau sinyal positif dari negosiasi perdagangan, harga minyak berisiko turun menuju level US$65.
Bagikan Berita Ini