• company.vifxjogja@gmail.com
  • (0274) 2924181
News Photo

Penerapan Tarif Minimum 145% pada Produk Impor dari China oleh Pemerintah AS

Pemerintah Amerika Serikat pada hari Kamis (10/4) waktu setempat telah secara resmi mengumumkan bahwa produk impor dari China kini dikenakan tarif minimum sebesar 145%. Ini menunjukkan sikap tegas Presiden Donald Trump terhadap mitra dagang utama AS tersebut di tengah ketegangan perdagangan yang semakin memanas.

Menurut laporan dari The New York Times, pengumuman tersebut dilakukan sehari setelah Trump mengumumkan akan menaikkan tarif atas barang-barang dari China menjadi 125%, sebagai respons terhadap tindakan balasan dari Beijing terhadap kebijakan tarif yang telah diterapkan sebelumnya. Namun, Gedung Putih menjelaskan bahwa angka 125% tersebut merupakan tambahan dari 20% tarif awal yang telah diberlakukan sebelumnya sebagai sanksi terhadap peran China dalam penyediaan fentanil ke AS.

China saat ini merupakan negara asal impor terbesar kedua bagi AS dan memiliki peran dominan sebagai produsen global untuk berbagai barang konsumsi, seperti ponsel, mainan, komputer, dan produk rumah tangga lainnya. Dengan tarif yang begitu tinggi, biaya impor untuk produk-produk tersebut diperkirakan akan meningkat drastis, yang berimplikasi besar bagi distributor, pengecer, dan konsumen di Amerika.

Gedung Putih juga menyatakan bahwa angka 145% merupakan batas bawah, bukan batas atas. Ini berarti tarif tersebut bisa meningkat seiring dengan penerapan kebijakan tarif lainnya yang sebelumnya telah ditetapkan oleh Trump, seperti 25% untuk baja, aluminium, mobil, dan suku cadangnya; tarif hingga 25% untuk produk tertentu selama masa jabatannya yang pertama; serta tarif bervariasi untuk produk tertentu yang dianggap melanggar peraturan perdagangan AS.

Kebijakan ini menciptakan lapisan tarif yang kompleks dan menyulitkan perhitungan biaya impor bagi pelaku usaha. Perubahan cepat dalam struktur tarif ini menyebabkan kebingungan di kalangan importir, baik perusahaan besar seperti ritel nasional maupun usaha kecil yang sangat bergantung pada produk dari China. Selisih antara tarif 125% dan 145% dapat berarti ribuan dolar untuk satu kontainer produk.

Meski kebijakan ini sudah diumumkan, pemerintahan Trump memberikan pengecualian sementara untuk barang-barang yang sudah dalam perjalanan menuju AS. Ini berarti barang yang dikirim melalui udara akan dikenakan tarif dalam beberapa hari ke depan, sedangkan barang yang dikirim lewat laut akan dikenakan tarif saat tiba dalam beberapa minggu ke depan. Hal ini memberikan sedikit waktu bagi para importir untuk menyesuaikan strategi logistik mereka, meskipun banyak yang merasa waktu tersebut tidak cukup untuk mencari alternatif.

Pintu Negosiasi

Di sisi lain, Trump dan Menteri Perdagangan Howard Lutnick menyatakan bahwa negara-negara lain berbondong-bondong mendekati mereka untuk melakukan kesepakatan demi menghindari krisis ekonomi lebih lanjut. "Semua orang ingin datang dan bernegosiasi, dan kami bekerja sama dengan banyak negara yang berbeda, dan semuanya akan berjalan dengan sangat baik," kata Trump dalam rapat kabinet. Lutnick juga menambahkan bahwa mitra dagang mulai berdatangan setelah Trump meminta agar negara-negara tersebut memperlakukan AS dengan lebih hormat melalui kebijakannya.

Namun, belum jelas negara mana yang mungkin akan mencapai kesepakatan dan dalam bidang apa. Sebagian besar kesepakatan yang sedang dinegosiasikan oleh pemerintahan Trump kemungkinan besar bukan perjanjian perdagangan yang komprehensif, yang memerlukan waktu bertahun-tahun untuk dirundingkan dan harus mendapatkan persetujuan dari kongres. Kesepakatan yang lebih terbatas mungkin akan menguntungkan beberapa eksportir, tetapi pada akhirnya tidak banyak membantu ekonomi AS atau mengurangi defisit perdagangan yang menjadi fokus Trump.

CNBC

 

Bagikan Berita Ini

Komentar

Apakah Anda ingin mendapatkan layanan berkualitas kami untuk Investasi?