Donald Trump kembali meningkatkan tarif impor terhadap sekitar 60 negara mitra dagang, termasuk tarif yang sangat tinggi sebesar 104% untuk berbagai produk dari China. Beijing, yang merupakan importir minyak terbesar di dunia, merespons dengan penolakan tegas dan bersiap untuk mengambil langkah balasan. Ketegangan ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor mengenai kemungkinan resesi global yang dapat mengurangi permintaan energi secara signifikan.
"Minyak kini menjadi korban dari dampak tarif Trump. Permintaan global sedang tertekan, dan pasar komoditas menjadi sangat peka terhadap eskalasi geopolitik," kata seorang analis energi senior di Bloomberg Intelligence.
Selain dari sisi permintaan, masalah pasokan juga menambah beban pada pasar. Koalisi produsen OPEC+ dilaporkan sedang mempertimbangkan untuk mempercepat pelonggaran pembatasan produksi guna menjaga pangsa pasar di tengah perlambatan permintaan global. Langkah ini semakin menekan harga karena pasar dibanjiri pasokan saat konsumsi justru menurun.
Ke depan, pelaku pasar akan memantau respons lanjutan dari China dan negara mitra dagang lainnya terhadap kebijakan Trump, serta sinyal terbaru dari OPEC+. Jika ketegangan perdagangan tidak mereda dan produksi minyak tetap longgar, harga bisa semakin jatuh menuju zona US$50-an. Selain itu, data persediaan minyak AS dari Energy Information Administration (EIA) yang akan dirilis pekan ini juga akan menjadi faktor penentu arah selanjutnya. Jika stok minyak meningkat, maka tekanan jual bisa semakin dalam.
Bagikan Berita Ini