Harga emas dunia mengalami penyesuaian akibat tindakan Presiden Amerika Serikat (AS) yang mengumumkan tarif timbal balik kepada berbagai negara, termasuk Indonesia. Berdasarkan data dari Refinitiv, pada perdagangan Jumat (4/4), harga emas acuan dunia (XAU) mengalami penurunan sebesar 2,42% dalam sehari, mencapai posisi US$ 3.037,35 per troy ons. Penurunan ini berlanjut pada Senin pagi (7/4), di mana kami memantau hingga pukul 05.50 WIB, harga emas kembali turun 0,84% menjadi US$ 3.011,96 per troy ons.
Meskipun harga emas baru saja memulai sesi perdagangan, di mana pedagang Asia paling aktif, harga ini mencerminkan penurunan terendah dalam 14 hari. Jika penurunan ini berlanjut hingga akhir sesi, maka harga emas akan mencatatkan penurunan selama tiga hari berturut-turut dari level tertinggi sepanjang masa. Meskipun terjadi penurunan, harga emas bisa dianggap sebagai koreksi yang wajar setelah mencapai level tertinggi.
Untuk informasi tambahan, harga logam mulia ini sempat mencapai puncak tertinggi secara intraday pada 3 April lalu di angka US$ 3.167,57 per troy ons. Pada tahun ini, harga emas diprediksi akan terus bersinar dikarenakan masih banyaknya ketidakpastian ekonomi akibat perang dagang yang dipicu oleh kebijakan Presiden Donald Trump. "Ketidakpastian adalah salah satu faktor utama yang menyebabkan minat baru terhadap emas," jelas Krishan Gopaul, analis senior di World Gold Council, kepada Financial Times.
Permintaan emas biasanya meningkat tajam saat terjadi kekacauan, ketika investor beralih ke aset yang dianggap aman. Pengumuman tarif baru oleh Trump pada Rabu pekan lalu (2/4) di sebut "Hari Pembebasan" telah mengakibatkan penurunan saham setelah jam perdagangan, meskipun harga emas berjangka justru naik. Beberapa institusi bahkan meningkatkan target harga tertinggi emas ke level baru. Goldman Sachs menaikkan target harga emasnya menjadi US$ 3.300 per troy ons pada akhir tahun, dari sebelumnya US$ 3.100. Bank of America (BoA) juga telah memperbarui perkiraannya baru-baru ini.
Nitesh Shah, kepala riset komoditas dan makroekonomi di Wisdom Tree untuk wilayah Eropa, menyatakan bahwa harga emas bisa mencapai US$ 3.600 pada kuartal pertama tahun 2026. Michael Widmer, kepala penelitian logam di Bank of America (BoA), mengatakan kepada NPR bahwa lonjakan harga emas baru-baru ini "hampir secara eksklusif didorong" oleh ketakutan dan ketidakpastian terkait tarif. Menurut World Gold Council, sebesar US$ 6,8 miliar mengalir ke ETF emas di Amerika Utara pada bulan Februari, yang merupakan arus masuk bulanan terbesar sejak Juli 2020. Secara keseluruhan, kekuatan emas dalam beberapa tahun terakhir didorong oleh permintaan yang lebih tinggi dari yang diperkirakan dari bank sentral yang terus meningkatkan cadangan mereka sejak pembekuan aset Rusia pada tahun 2022, seperti yang dicatat oleh Goldman Sachs.
Bagikan Berita Ini