Harga emas mengalami jeda sejenak setelah mencetak rekor tertinggi baru. Namun, proyeksi menunjukkan bahwa harga emas masih berada dalam tren peningkatan dan dapat bertahan di atas level US$3.000 per troy ons, seiring dengan tingginya permintaan terhadap aset safe haven.
Pada perdagangan Kamis (20/3), harga emas dunia di pasar spot melemah sebesar 0,09% menjadi US$3.044,41 per troy ons. Harga emas ditutup lebih rendah setelah mencapai rekor tertinggi baru di level US$3.057,21 pada perdagangan intraday. Penutupan tersebut mengakhiri penguatan harga emas yang berlangsung selama tiga hari berturut-turut dengan kenaikan total mencapai 2,1%.
Penurunan harga pada hari Kamis juga mengakhiri performa sensasional emas yang mencetak rekor dalam tiga hari berturut-turut. Pada perdagangan hari ini, Jumat (21/3), hingga pukul 06.03 WIB, harga emas dunia di pasar spot kembali menguat tipis sebesar 0,03% menjadi US$3.045,37 per troy ons.
Emas mengalami penurunan pada perdagangan Kamis setelah mencapai rekor tertinggi di awal sesi. Meskipun demikian, prospek emas tetap bullish, didukung oleh potensi penurunan suku bunga yang diisyaratkan oleh bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), serta ketidakpastian geopolitik dan ekonomi yang terus berlanjut.
"Para spekulan mencoba memanfaatkan pasar dan mengambil sebagian keuntungan. Saya pikir setiap kali emas mencapai puncaknya, kita melihat adanya sedikit perlawanan," ungkap Alex Ebkarian, kepala operasi di Allegiance Gold, dalam wawancara dengan Reuters.
"Emas bahkan belum berfungsi sebagai aset safe haven untuk investor ritel karena secara teknis kita belum berada dalam resesi. Kita melihat adanya perlambatan ekonomi, yang dapat menciptakan ketidakpastian lebih lanjut dan meningkatkan keinginan untuk berinvestasi pada aset safe haven," tambahnya.
Ketua The Fed, Jerome Powell, menyampaikan pada Rabu bahwa kebijakan awal Presiden Trump, termasuk tarif impor yang luas, mungkin telah memperlambat pertumbuhan ekonomi AS dan meningkatkan inflasi. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengkritik keputusan The Fed untuk menahan suku bunga, meskipun proyeksi menunjukkan adanya dua pemotongan suku bunga seperempat poin persentase pada akhir tahun akibat melemahnya pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang lebih tinggi.
Para pelaku pasar memperkirakan akan ada pelonggaran dengan setidaknya dua pemotongan suku bunga masing-masing sebesar 25 bps, termasuk pemotongan yang sudah diperhitungkan pada bulan Juli. "Dalam skenario bullish, kami melihat harga emas dapat mencapai US$3.500 per troy ons pada akhir tahun, didorong oleh permintaan untuk lindung nilai/investasi yang jauh lebih tinggi akibat kekhawatiran akan pendaratan keras/stagflasi di AS," menurut catatan analis di Citi.
Dalam konteks perang, setidaknya 91 warga Palestina dilaporkan tewas dan puluhan lainnya terluka akibat serangan udara Israel di Gaza setelah gencatan senjata selama dua bulan berakhir, menurut kementerian kesehatan setempat. Emas berfungsi sebagai pelindung nilai terhadap ketidakpastian dan cenderung berperforma baik dalam lingkungan suku bunga yang rendah.
Bagikan Berita Ini