Harga emas global mencapai prestasi baru dengan melampaui level US$3.000 per troy ons, meskipun kemudian kembali ke level psikologis US$2.900 per troy ons. Minggu ini menjadi periode krusial bagi emas, mengingat Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve) akan mengumumkan keputusan suku bunga.
Peningkatan permintaan terhadap aset safe haven, yang dipicu oleh ketidakpastian global, menjadi katalis utama kenaikan harga emas. Para pelaku pasar kini menanti dengan was-was, apakah keputusan The Fed akan membawa kegembiraan atau kesuraman bagi mereka.
Pada perdagangan Senin (17/3) pukul 06.21 WIB, harga emas dunia di pasar spot mengalami penguatan sebesar 0,24%, mencapai posisi US$2.991,49 per troy ons. Sementara itu, pada perdagangan sebelumnya, Jumat (14/3), harga emas dunia di pasar spot mengalami sedikit pelemahan sebesar 0,11%, berada di level US$2.984,42 per troy ons. Pelemahan ini terjadi setelah harga emas dunia mencatatkan rekor tertinggi intraday sepanjang masa di level US$3.004,86 per troy ons.
Lonjakan harga emas melewati batas US$3.000 per troy ons pada perdagangan Jumat merupakan peristiwa bersejarah, didorong oleh gelombang investor yang mencari perlindungan dari ketidakpastian ekonomi akibat perang tarif yang dilancarkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Tai Wong, seorang pedagang logam independen, mengatakan kepada Reuters bahwa lonjakan emas ini dipicu oleh investor yang mencari aset safe haven di tengah kekacauan yang ditimbulkan oleh kebijakan Trump di pasar saham.
Emas, yang secara tradisional dipandang sebagai tempat penyimpanan nilai yang aman selama masa ketidakpastian geopolitik, telah mengalami kenaikan hampir 14% sepanjang tahun ini. Kenaikan ini sebagian besar didorong oleh kekhawatiran atas dampak tarif Trump dan aksi jual yang diakibatkannya di pasar saham.
Ole Hansen, kepala strategi komoditas di Saxo Bank, menjelaskan bahwa pengelola aset riil, terutama di negara-negara Barat, membutuhkan pasar saham yang kuat dan ketakutan akan perlambatan ekonomi untuk kembali berinvestasi di emas, dan hal ini sedang terjadi saat ini.
Selain itu, permintaan dari bank sentral juga turut mendukung kenaikan harga emas. China, sebagai pembeli utama, telah menambah cadangan emas batangannya selama empat bulan berturut-turut hingga Februari. David Russell, CEO GoldCore, menyatakan bahwa bank-bank sentral terus melakukan akuisisi emas pada level rekor, berusaha untuk melakukan diversifikasi dari dolar AS yang semakin bergejolak.
Ekspektasi pelonggaran moneter oleh The Federal Reserve AS juga telah membantu mendorong harga emas, dengan para pedagang memperkirakan adanya pemotongan suku bunga pada bulan Juni. Juan Carlos Artigas, kepala penelitian global di World Gold Council, menjelaskan bahwa ada beberapa alasan kuat mengapa permintaan investasi emas kemungkinan akan tetap tinggi, termasuk meningkatnya risiko geopolitik dan geoekonomi, ekspektasi inflasi yang lebih tinggi, potensi suku bunga yang lebih rendah, dan ketidakpastian yang dirasakan pasar.
Goldman Sachs, dalam sebuah catatan analisisnya, menyatakan bahwa ada potensi kenaikan harga emas hingga mencapai US$3.100 per troy ons pada akhir tahun 2025, dengan kemungkinan berada di kisaran US$3.100-US$3.300 per troy ons. Hal ini didasarkan pada ketidakpastian kebijakan AS yang dapat mendukung permintaan investor. Goldman Sachs juga meyakini bahwa pembelian emas oleh bank sentral akan tetap lebih tinggi secara struktural dibandingkan sebelum pembekuan cadangan bank sentral Rusia pada tahun 2022, bahkan setelah potensi gencatan senjata Rusia-Ukraina
Pergerakan harga emas dalam pekan ini akan sangat dipengaruhi oleh keputusan suku bunga The Fed, yang akan diumumkan pada Rabu waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia. Jika The Fed memutuskan untuk memangkas suku bunga, hal ini akan menjadi berkah bagi emas. Namun, jika The Fed kembali menunjukkan sikap hawkish, harga emas bisa mengalami penurunan.
Pemangkasan suku bunga cenderung melemahkan dolar AS dan menurunkan imbal hasil obligasi, yang berdampak positif pada harga emas. Sebaliknya, penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil US Treasury berdampak negatif terhadap emas. Hal ini disebabkan karena pembelian emas dikonversi ke dalam dolar, sehingga penguatan dolar AS membuat emas menjadi lebih mahal untuk dibeli, yang pada gilirannya mengurangi permintaan
Emas juga tidak menawarkan imbal hasil, sehingga kenaikan imbal hasil US Treasury membuat emas menjadi kurang menarik bagi investor. Di sisi lain, pelemahan dolar AS dan penurunan imbal hasil US Treasury berdampak positif terhadap emas, karena membuat emas menjadi lebih murah untuk dibeli dan meningkatkan daya tariknya sebagai investasi alternatif.
Bagikan Berita Ini