• company.vifxjogja@gmail.com
  • (0274) 2924181
News Photo

Kebijakan Tarif Impor AS Dorong Pelemahan Rupiah dan Inflasi Global

Pada hari Jumat, 28 Februari 2025, nilai tukar rupiah dibuka melemah sebesar 0,79% ke posisi Rp16.575 per dolar AS pada pukul 11:11 WIB, menurut laporan CNBC. Posisi ini menjadi yang terendah sepanjang sejarah nilai tukar rupiah. Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) tercatat naik 0,04% ke angka 107,29 pada pukul 08:54 WIB, lebih tinggi dibandingkan posisi sehari sebelumnya di angka 107,24.

Ekonom Bank Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah ini dipengaruhi oleh lonjakan volatilitas pasar serta aksi ambil untung oleh investor. Hal ini juga berkaitan dengan kebijakan Presiden AS Donald Trump yang menaikkan tarif impor dari Kanada, Meksiko, dan Tiongkok sejak 25 Maret. Selain itu, permintaan dolar AS dari pelaku ekonomi domestik untuk kebutuhan pembayaran rutin akhir bulan, seperti pembayaran utang, bunga, dan barang impor, turut menekan nilai tukar rupiah. Permintaan ini meningkat menjelang bulan puasa dan Lebaran.

Kebijakan tarif baru AS terhadap Tiongkok menambah bea masuk sebesar 10% yang sebelumnya diberlakukan. Tarif sebesar 25% juga dikenakan pada seluruh impor dari Kanada dan Meksiko, kecuali produk energi dari Kanada yang dikenakan pajak 10%. Jika tidak ada perubahan kebijakan, pada 4 Maret 2025, pajak impor diperkirakan meningkat lebih dari US$1 triliun.

Myrdal juga memperkirakan inflasi AS akan meningkat hingga 3,5% pada tahun 2025 akibat kebijakan ini. Meskipun The Fed dan bank sentral lainnya memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga, langkah tersebut terbatas karena tekanan inflasi yang tinggi.

Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, menambahkan bahwa faktor eksternal masih menjadi penyebab utama pelemahan rupiah. Pasar masih mengantisipasi dampak negatif dari kebijakan tarif Trump. Selain itu, data GDP Price Index AS kuartal IV menunjukkan kenaikan yang lebih tinggi dari sebelumnya, yang mengindikasikan tekanan inflasi. Hal ini dapat mendorong The Fed untuk menunda pemangkasan suku bunga acuannya, sehingga memperkuat dolar AS.

Ariston juga memprediksi tekanan terhadap rupiah akan terus berlanjut dalam beberapa bulan ke depan, dengan potensi pelemahan hingga ke level Rp16.700 per dolar AS.

CNBC

Bagikan Berita Ini

Komentar

Apakah Anda ingin mendapatkan layanan berkualitas kami untuk Investasi?