Harga emas mengalami penurunan setelah mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah. Penurunan ini terjadi menyusul rilis risalah Federal Open Market Committee (FOMC). Meski demikian, ancaman tarif baru dari Presiden Donald Trump tetap mendorong emas sebagai aset safe haven untuk mencapai rekor baru.
Pada perdagangan hari Rabu (19 Februari 2025), harga emas dunia di pasar spot melemah tipis sebesar 0,1% ke level US$ 2.932,64 per troy ons. Sebelumnya, pada perdagangan Selasa, harga emas sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di US$ 2.935,58 per troy ons. Namun, pada Kamis pagi (20 Februari 2025) pukul 06.29 WIB, harga emas tercatat menguat tipis menjadi US$ 2.934,02 per troy ons.
Risalah FOMC yang dirilis Rabu waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia menunjukkan bahwa The Fed sepakat untuk memastikan inflasi harus turun lebih signifikan sebelum mempertimbangkan penurunan suku bunga lebih lanjut. Selain itu, ada kekhawatiran terkait dampak tarif baru Presiden Trump terhadap perekonomian.
Anggota FOMC memutuskan untuk mempertahankan suku bunga di kisaran 4,25-4,50% setelah sebelumnya memangkas suku bunga tiga kali berturut-turut pada 2024. Mereka juga menyoroti bahwa kebijakan saat ini memberikan ruang untuk mengevaluasi perkembangan ekonomi sebelum mengambil langkah baru. Sementara itu, pasar emas melihat kebijakan The Fed yang cenderung membatasi pelonggaran sebagai faktor yang menekan harga emas.
Namun demikian, harga emas tetap memiliki potensi untuk menguat. Ketidakpastian global, seperti ancaman tarif baru Presiden Trump terhadap otomotif, semikonduktor, dan farmasi, menjadi faktor pendukung harga emas. Para analis juga memperkirakan harga emas dapat mencapai level US$ 3.000 per troy ons di masa mendatang.
Menurut para ahli, emas tetap menjadi aset lindung nilai yang menarik di tengah ketegangan geopolitik dan inflasi yang meningkat. Analis UBS Giovanni Staunovo menambahkan bahwa bank sentral diperkirakan akan terus membeli emas sebagai bagian dari diversifikasi cadangan mereka.
Bagikan Berita Ini