• company.vifxjogja@gmail.com
  • (0274) 2924181
News Photo

Utang 2025 Lebih Tinggi dari Tahun Lalu, Kenapa?

Utang yang jatuh tempo bagi pemerintah Indonesia pada tahun 2025 ternyata tidak begitu besar jika dibandingkan dengan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang diperkirakan mencapai hampir Rp1.000 triliun. Untuk tahun ini, utang jatuh tempo mencapai Rp800,33 triliun, yang terdiri dari Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp705,5 triliun dan pinjaman sebesar Rp94,83 triliun. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan catatan tahun 2024, yang hanya mencapai Rp434,29 triliun, terdiri dari SBN Rp371,8 triliun dan pinjaman Rp62,49 triliun.

Pada tahun 2026, utang jatuh tempo diperkirakan mencapai Rp803,19 triliun, dengan komposisi SBN sebesar Rp703 triliun dan pinjaman Rp100,19 triliun. Sementara itu, pada tahun 2027, total utang jatuh tempo diperkirakan mencapai Rp802,61 triliun, terdiri dari SBN Rp695,5 triliun dan pinjaman Rp107,11 triliun. Pada tahun 2028, utang jatuh tempo diperkirakan turun menjadi Rp719,81 triliun, dengan SBN sebesar Rp615,2 triliun dan pinjaman Rp104,61 triliun. Jika dijumlahkan untuk periode 2025-2028, total utang jatuh tempo mencapai Rp3.125,94 triliun.

Dalam laporan Bahana Sekuritas, disebutkan bahwa jatuh tempo SRBI dengan tenor 12 bulan sepanjang tahun ini akan mencapai puncaknya pada bulan Mei, Juni, dan Juli 2025, dengan masing-masing nilai Rp113,1 triliun, Rp121,7 triliun, dan Rp126,7 triliun. Besarnya utang jatuh tempo tenor 12 bulan di tengah tahun ini berkontribusi signifikan terhadap total utang jatuh tempo SRBI, terutama pada bulan-bulan tersebut yang diproyeksikan masing-masing sebesar Rp122 triliun, Rp136 triliun, dan Rp131 triliun.

Kewajiban besar untuk membayar utang jatuh tempo SRBI ini dapat meningkatkan kemungkinan arus keluar dana asing dari SRBI dan berpotensi melemahkan nilai mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data transaksi dari Bank Indonesia, terjadi net foreign sell dari SRBI secara berturut-turut antara pekan pertama November 2024 hingga pekan pertama Januari 2025, dengan total sekitar Rp19 triliun.

Jika net foreign sell ini berlanjut, maka pelemahan nilai rupiah berpotensi terus berlanjut dan dapat menyentuh level yang lebih tinggi setiap harinya. Per 13 Januari 2025, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah sebesar 0,56% menjadi Rp16.270/US$, yang merupakan posisi terburuk sejak 19 Desember 2024, sekitar tiga minggu lalu.

 

Bagikan Berita Ini

Komentar

Apakah Anda ingin mendapatkan layanan berkualitas kami untuk Investasi?