Pergerakan harga emas di pasar global mengalami fluktuasi setelah libur Natal dan menjelang libur tahun baru. Faktor geopolitik dan konflik global semakin mempengaruhi harga emas. Data dari CNBC menunjukkan bahwa pada penutupan perdagangan Kamis (26/12), harga emas dunia naik 0,8% menjadi US$2.634,09 per troy ons.
Namun, pada Jumat (27/12) pukul 05:53 WIB, harga emas turun 0,13% menjadi US$2.630,55 per troy ons. Emas menguat pada Kamis, melanjutkan tren kenaikan sebelum libur Natal. Kenaikan ini didukung oleh sedikit katalis sebelum pasar tutup untuk liburan. Emas juga mendapat dukungan dari konflik geopolitik yang biasanya menguntungkan aset yang dianggap aman.
Konflik antara Rusia dan Ukraina serta situasi tegang di Timur Tengah mampu meredam kekuatan dolar AS yang biasanya berdampak negatif pada emas. Indeks dolar menguat menjadi 108,2 dari 108,04 sebelum Natal. Biasanya, emas akan melemah ketika dolar AS menguat. Namun, karena konflik geopolitik semakin memanas, harga emas masih bisa bertahan.
"Beberapa kenaikan harga emas berkaitan dengan apa yang terjadi di Ukraina, dengan Rusia yang menyerang sistem kelistrikan Ukraina kemarin," kata Daniel Pavilonis, ahli strategi pasar senior di RJO Futures, kepada Reuters.
Setelah konflik tersebut, Dinas Keamanan Federal Rusia mengumumkan bahwa mereka telah menangkap empat tersangka yang diduga terlibat dalam rencana Ukraina untuk membunuh perwira tinggi militer dari Kementerian Pertahanan Rusia.
Pasar juga memantau perkembangan jatuhnya pesawat Azerbaijan Airlines di Kazakhstan, di tengah laporan bahwa seorang pejabat AS mengaitkan kejadian tersebut dengan Rusia.
Selain itu, militer Pakistan melakukan serangan udara ke negara tetangga, Afghanistan. Serangan ini menimbulkan peringatan dari pemerintah Afghanistan dan Taliban. Pakistan diyakini menargetkan tempat persembunyian Tehreek-e-Taliban Pakistan/TTP, kelompok bersenjata di provinsi Pakistan yang juga dikenal dengan Taliban Pakistan.
Meski tidak ada pernyataan resmi dari Kementerian Luar Negeri Pakistan atau sayap media militer ISPR, sumber mengonfirmasi bahwa serangan itu terjadi di distrik Barmal Afghanistan, dekat distrik suku Waziristan Selatan Pakistan, di provinsi Khyber Pakhtunkhwa.
Pemerintah Afghanistan membenarkan adanya serangan namun bersikeras mengatakan target Pakistan adalah warga sipil. Kantor juru bicara Taliban mengatakan bahwa sedikitnya 46 orang tewas dalam serangan udara itu termasuk wanita dan anak-anak.
"Pakistan harus memahami bahwa tindakan sewenang-wenang tersebut bukanlah solusi untuk masalah apa pun," tulis juru bicara Kementerian Pertahanan Afghanistan, Enayatullah Khowarazami, di platform media sosial X.
"Emirat Islam tidak akan membiarkan tindakan pengecut ini tidak terjawab dan menganggap pertahanan wilayahnya sebagai hak yang tidak dapat dicabut," tambahnya, merujuk Afghanistan dengan nama yang diberikan oleh pemerintah Taliban.
Menurut Kementerian Dalam Negeri Pakistan, lebih dari 1.500 insiden kekerasan dalam 10 bulan pertama tahun ini telah mengakibatkan sedikitnya 924 kematian. Di antara korban tersebut terdapat sedikitnya 570 personel penegak hukum dan 351 warga sipil.
Pakistan Institute for Conflict and Security Studies (PICSS), sebuah organisasi penelitian yang berpusat di Islamabad, melaporkan lebih dari 856 serangan sejauh ini pada tahun 2024. Angka itu melampaui 645 insiden yang tercatat pada tahun 2023.
Dalam jangka pendek hingga menengah, harga emas mungkin mengalami fluktuasi dan volatilitas, karena tidak ada kekuatan pendorong umum di tengah liburan, tulis analis di Nanhua Futures.
Bagikan Berita Ini