• company.vifxjogja@gmail.com
  • (0274) 2924181
News Photo

Harga Emas Naik Terbang, Penyebabnya Bikin Kaget!

Nilai emas kembali menunjukkan peningkatan dan mencapai puncak tertinggi dalam dua minggu terakhir pada penutupan perdagangan hari Selasa (10/12) yang lalu. Kenaikan nilai emas ini didukung oleh peningkatan ketegangan geopolitik dan dugaan penurunan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat (AS) minggu depan. Data dari CNBC menunjukkan bahwa harga emas dunia naik sebesar 1,31% menjadi US$ 2.693,64 per troy ons. Emas telah mengalami kenaikan sebesar 2,34% dalam tiga hari terakhir. Harga penutupan tersebut merupakan yang tertinggi sejak 5 November 2024.

Pada perdagangan Rabu pagi, Rabu (11/12) pukul 06:17 WIB, emas mengalami peningkatan sebesar 0,05% menjadi US$ 2.695,04 per troy ons. Harga emas naik karena adanya sentimen positif yang kuat dari konflik di Arab, serta kebijakan China dan Amerika Serikat (AS). Ketiga faktor ini jarang terjadi bersamaan karena biasanya sentimen dari negara-negara tersebut seringkali bertentangan.

"Kekhawatiran akan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah mendorong minat terhadap aset safe haven seperti emas," kata Peter Grant, vice president dan ahli strategi logam senior di Zaner Metals, dikutip dari Reuters.

Timur Tengah kembali memanas setelah Israel menyerang Suriah, di mana serangan ini telah mencapai sekitar 25 km (16 mil) barat daya Damaskus. Ini terjadi setelah Israel merebut zona penyangga di Suriah selatan dan melancarkan serangan udara terhadap pangkalan-pangkalan militer dan udara Suriah.

Melansir Reuters pada Selasa kemarin, sumber keamanan Suriah mengatakan pasukan Israel mencapai Qatana, yang berjarak 10 km (enam mil) ke wilayah Suriah di sebelah timur zona demiliterisasi yang memisahkan Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel dari Suriah.

Sumber keamanan regional dan pejabat dalam tentara Suriah yang kini telah jatuh mengatakan serangan udara Israel yang gencar terus berlanjut terhadap instalasi militer dan pangkalan udara di seluruh Suriah semalam.

Emas dianggap sebagai investasi yang aman selama gejolak ekonomi dan geopolitik masih terus terjadi serta cenderung berkembang dalam lingkungan suku bunga yang lebih rendah.

Di lain sisi, pasar saat ini juga tengah berfokus pada rilis data Indeks Harga Konsumen (IHK) AS, yang diperkirakan naik sebesar 0,3% pada November lalu, berdasarkan survei Reuters. Data ini cukup penting untuk dicermati karena dapat mempengaruhi keputusan penurunan suku bunga bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed).

Sejauh ini, menurut perangkat CME FedWatch, probabilitas pasar yang memperkirakan The Fed akan kembali memangkas suku bunga acuannya masih cukup besar yakni mencapai 8,61%. Angka ini mengalami peningkatan dari sehari sebelumnya yang mencapai 85%.

Di tempat lain, China akan mengadopsi kebijakan moneter yang "cukup longgar" dan pendekatan fiskal yang lebih proaktif tahun depan. Hal ini telah dikonfirmasi oleh Politbiro pada Senin lalu.

"Setiap pengumuman besar akan memberikan dorongan pada emas karena Tiongkok merupakan negara konsumen terbesar, dan terutama menjelang perayaan Tahun Baru Imlek ketika permintaan perhiasan untuk pemberian hadiah meningkat," tambah Razaqzada, dilansir dari Reuters.

Selain itu, sentimen dari pemerintah China yang kembali memborong emas juga masih menjadi penopang hari ini. Bank sentral China (People's Bank of China/PBoC) kembali membeli emas sebanyak 160.000 ons mas murni bulan lalu atau sekitar 5 ton.

Penambahan ini merupakan yang pertama sejak April lalu, sebelum bank sentral menghentikan pembelian selama 18 bulan yang telah membantu menopang harga di tengah selera yang kuat dari lembaga-lembaga publik dunia.

Dimulainya kembali pembelian oleh China dapat mendukung permintaan investor di negara tersebut. Pembelian emas oleh PBoC yang kuat telah memainkan peran utama dalam mendukung rekor reli emas tahun ini, di samping pelonggaran kebijakan moneter dan ketegangan geopolitik.

CNBC

Bagikan Berita Ini

Komentar

Apakah Anda ingin mendapatkan layanan berkualitas kami untuk Investasi?