Pada hari Selasa (9/12), harga minyak mentah tampaknya mengalami penurunan, meskipun ada peningkatan risiko geopolitik akibat jatuhnya Presiden Suriah, Bashar al-Assad. Sentimen positif juga muncul dari China, importir utama, yang menunjukkan langkah pertama dalam melonggarkan kebijakan moneter sejak 2010. Pada pukul 09:28 WIB, harga Brent turun 0,35% menjadi US$ 71,89 per barel, sementara harga minyak jenis light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) turun 0,35% menjadi US$ 68,13 per barel.
Meski demikian, pada hari Senin sebelumnya, harga minyak global tampak cerah dan bergairah. Harga Brent naik 1,43% menjadi US$ 72,14 per barel, sementara WTI naik 1,74% menjadi US$ 68,37 per barel.
Menurut Jorge Leon, kepala analisis geopolitik Rystad Energy, peristiwa di Suriah dapat mempengaruhi pasar minyak mentah dan meningkatkan premi risiko geopolitik pada harga minyak dalam beberapa minggu dan bulan mendatang. Pemberontakan di Suriah telah menggulingkan Assad, mengakhiri dinasti keluarga selama 50 tahun dan meningkatkan kekhawatiran akan ketidakstabilan lebih lanjut di wilayah yang dilanda perang.
Meski Suriah bukan produsen minyak utama, negara ini memiliki pengaruh geopolitik karena lokasinya dan hubungannya dengan Rusia dan Iran. Perubahan rezim ini berpotensi menyebar ke wilayah tetangga Suriah.
Di sisi lain, China berencana meningkatkan penyesuaian kontra-siklus "non-konvensional", dengan fokus pada perluasan permintaan domestik dan peningkatan konsumsi. Perlambatan permintaan minyak dari China menjadi faktor di balik keputusan OPEC+ minggu lalu untuk menunda rencana peningkatan produksi hingga April.
Saudi Aramco, eksportir utama, memangkas harga pada Januari 2025 untuk pembeli Asia ke level terendah sejak awal 2021, yang menimbulkan kekhawatiran pasar tentang permintaan yang lemah. Pasar juga tetap fokus pada data inflasi AS yang diharapkan akhir minggu ini yang dapat memperkuat pemotongan suku bunga Desember oleh bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) minggu depan. Suku bunga yang lebih rendah dapat menurunkan biaya pinjaman, yang dapat meningkatkan aktivitas ekonomi dan memacu permintaan minyak.
Bagikan Berita Ini