• company.vifxjogja@gmail.com
  • (0274) 2924181
News Photo

Penurunan Harga Emas Global Seiring Penguatan Dolar AS

Harga emas di pasar global mengalami penurunan drastis seiring dengan peningkatan nilai dolar Amerika dan naiknya imbal hasil obligasi Amerika. Situasi ini mengurangi daya tarik emas sebagai aset investasi yang aman. Pasar memprediksi kebijakan fiskal agresif setelah kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden Amerika, yang diperkirakan akan mempengaruhi inflasi dan memperkuat dolar. Pada perdagangan Kamis (14/11), harga emas turun 0,9% menjadi US$ 2.573,78 per troy ons, yang merupakan harga penutupan terendah sejak 18 September 2024. Harga emas sedikit membaik pada hari Kamis pagi (14/11) dengan kenaikan tipis 0,03% menjadi US$ 2.574,44 per troy ons. Dalam seminggu, emas telah turun hampir 5%, sebagian besar disebabkan oleh sentimen kenaikan dolar dan lonjakan imbal hasil obligasi Amerika.

Indeks dolar Amerika (DXY) ditutup di posisi 106,505, yang merupakan posisi tertinggi sejak 1 November 2023. Situasi ini diperparah dengan lonjakan imbal hasil US Treasury. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik ke 4,43% pada perdagangan kemarin, yang merupakan rekor tertinggi sejak 1 Juli 2024. Penguatan dolar Amerika dan imbal hasil US Treasury berdampak negatif pada emas. Kenaikan dolar membuat emas menjadi lebih mahal untuk dibeli, sehingga mengurangi pembelian. Emas juga tidak menawarkan imbal hasil, sehingga kenaikan imbal hasil US Treasury membuat emas kurang menarik.

Inflasi Amerika naik pada Oktober 2024, mencapai 2,6% secara tahunan (yoy) dari 2,4% di bulan sebelumnya. Ini adalah kenaikan pertama dalam tujuh bulan terakhir. Inflasi inti mencapai 3,3% (yoy) pada Oktober atau sama dengan bulan sebelumnya. Secara bulanan, inflasi umum mencapai 0,2% pada Oktober 2024 atau sama dengan September. Data inflasi ini membuat pasar semakin skeptis bahwa The Fed akan melanjutkan pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Desember mendatang. Menurut CME FedWatch Tool, ekspektasi pemangkasan suku bunga telah menurun dari 82,73% menjadi hanya 58,7%. Kenaikan inflasi yang berkelanjutan dan tekanan harga dari kebijakan tarif yang dijanjikan Trump mengindikasikan bahwa suku bunga Amerika bisa bertahan tinggi untuk waktu yang lebih lama.

Jika The Fed memilih menahan suku bunganya atau bahkan kembali bersikap hawkish, dolar Amerika kemungkinan akan semakin menguat. Hal ini berpotensi mengancam stabilitas rupiah dan arus modal di Indonesia, mengingat investor cenderung memindahkan dana mereka ke aset berdenominasi dolar yang dianggap lebih aman. "Setelah kemenangan Trump, pasar kini memprediksi kebijakan pajak dan tarif baru yang akan mendorong inflasi dan permintaan dolar yang lebih kuat," kata Rhona O'Connell, analis dari StoneX. Menurut O'Connell, ketidakpastian inflasi akibat kebijakan Trump dapat membatasi penurunan suku bunga lebih lanjut oleh Federal Reserve (The Fed) pada pertemuan Desember mendatang, yang sebelumnya diharapkan mencapai 65% peluang pemangkasan.

Selain itu, data terbaru dari Consumer Price Index (CPI) Amerika menunjukkan inflasi yang meningkat sesuai ekspektasi. Jika inflasi terus bergerak naik, The Fed mungkin akan menahan siklus pelonggaran kebijakan yang agresif. Para analis memperkirakan, level kunci US$ 2.600 menjadi area psikologis yang krusial untuk tren emas ke depan, terutama jika kekhawatiran inflasi terus meningkat. Volatilitas harga emas diperkirakan akan tetap tinggi, terutama di tengah perkembangan kebijakan fiskal dan moneter Amerika. Para investor akan terus mengamati dampak kebijakan Trump terhadap inflasi, serta keputusan The Fed pada bulan mendatang.

CNBC

Bagikan Berita Ini

Komentar

Apakah Anda ingin mendapatkan layanan berkualitas kami untuk Investasi?