• company.vifxjogja@gmail.com
  • (0274) 2924181
News Photo

Ketidakpastian Kebijakan Trump Berdampak pada Harga Emas

Harga emas dunia merosot tajam seiring dengan peningkatan nilai dolar AS dan ketidakpastian yang muncul dari prospek kebijakan ekonomi Presiden terpilih Donald Trump. Data inflasi AS yang akan diumumkan minggu ini menambah kegelisahan pasar, sehingga diperkirakan harga emas akan sangat fluktuatif dalam beberapa hari mendatang. 

Pada hari Senin (11/11), harga emas spot merosot sebesar 2,3% menjadi US$ 2.622,78 per troy ons, yang merupakan harga terendah sejak 15 Oktober atau hampir sebulan yang lalu. Pada hari Selasa (12/11), pukul 5:55 WIB, harga emas masih menunjukkan penurunan tipis sebesar 0,13% menjadi US$ 2.619,34 per troy ons.

 Dilaporkan oleh Reuters, peningkatan nilai dolar AS memberikan tekanan besar pada harga emas. Sejak Trump dinyatakan menang dalam pemilihan presiden AS, indeks dolar AS (DXY) naik 0,5% menjadi 105,44, level tertingginya sejak Juli. Peningkatan nilai dolar AS dan imbal hasil US Treasury berdampak negatif pada emas. 

Pembelian emas dikonversi ke dolar sehingga kenaikan dolar AS membuat emas menjadi lebih mahal untuk dibeli, yang mengurangi pembelian. "Pasar sekarang mulai fokus pada dampak kemenangan Trump, terutama mengenai kemungkinan adanya kebijakan tarif baru yang bisa mendorong permintaan dolar lebih kuat.

Penguatan dolar ini juga menambah kekhawatiran investor akan kemungkinan The Fed menunda siklus pelonggaran." kata Daniel Ghali, Kepala Strategi Komoditas di TD Securities, kepada Reuters. Investor sekarang menunggu data inflasi utama seperti Consumer Price Index (CPI) dan Producer Price Index (PPI) yang akan dirilis Rabu mendatang (13/11/2204). 

Data tersebut akan memberikan gambaran lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed), terutama di tengah inflasi yang mendekati target bank sentral sebesar 2%. Peluang pemangkasan suku bunga oleh The Fed di Desember saat ini turun menjadi 65% dari sebelumnya 80% sebelum hasil pemilihan diumumkan, menurut CME FedWatch Tool. 

Dengan prospek dolar yang lebih kuat dan kenaikan inflasi yang ditargetkan Trump, emas mungkin tetap berada di bawah tekanan dalam jangka pendek. Meskipun demikian, analis seperti Alex Ebkarian dari Allegiance Gold percaya bahwa inflasi yang stabil dan pelonggaran kebijakan Fed bisa kembali mengangkat harga emas sebagai aset lindung nilai inflasi dalam jangka panjang. Dalam jangka pendek, volatilitas harga emas diperkirakan tetap tinggi seiring perkembangan kebijakan The Fed dan pengumuman data ekonomi yang akan datang. Para analis tetap memperkirakan level psikologis US$ 2.600 sebagai area kunci yang bisa menjadi acuan tren emas ke depan.

CNBC

Bagikan Berita Ini

Komentar

Apakah Anda ingin mendapatkan layanan berkualitas kami untuk Investasi?