• company.vifxjogja@gmail.com
  • (0274) 2924181
News Photo

Pemotongan Pasokan Minyak sebagai Respons terhadap Badai Rafael

Nilai minyak mentah global mengalami peningkatan hampir 1% menjelang akhir pekan, sejalan dengan penurunan nilai dolar akibat pemotongan suku bunga oleh the Fed. Data dari CNBC menunjukkan bahwa pada penutupan perdagangan Kamis (7/11), jenis minyak mentah Brent naik 0,95% menjadi US$ 75,63 per barel, sementara jenis WTI naik 0,93% menjadi US$ 72,36 per barel. Meski demikian, pada Jumat (8/11), harga minyak cenderung stagnan dengan Brent turun sekitar 0,32% dan WTI turun 0,40%.

Peningkatan harga minyak ini didorong oleh kebijakan penurunan suku bunga oleh the Fed yang mengurangi tekanan terhadap indeks dolar AS (DXY). Indeks dolar melemah 0,75% kembali ke level 104, menjauh dari level tertinggi dalam tiga bulan terakhir. Biasanya, dolar yang kuat membuat minyak menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain dan cenderung membebani harga.

Namun, ketika tekanan dolar mereda akibat pemotongan suku bunga, aktivitas ekonomi akan mulai pulih diikuti oleh peningkatan permintaan energi. Pasar juga masih mempertimbangkan bagaimana kebijakan Presiden AS terpilih, Donald Trump, akan memengaruhi pasokan. Pada masa jabatan pertamanya, Trump memberlakukan sanksi yang lebih keras terhadap minyak Iran dan Venezuela, yang sempat dicabut oleh pemerintahan Biden tetapi kemudian diberlakukan kembali.

Pemotongan pasokan juga dinilai memberikan penguatan harga. Biro Keselamatan dan Penegakan Lingkungan AS mengatakan di Teluk Meksiko AS, lebih dari 22%, atau 391.214 barel per hari, produksi minyak mentah dihentikan sebagai respons terhadap Badai Rafael. Di sisi lain, pasar mencermati efek permintaan China yang masih lesu akan menjadi penghambat bagi harga. Tercatat, impor minyak mentah di China turun 9% pada Oktober menandai sudahn keenam berturut-turut yang menunjukkan penurunan secara tahunan.

CNBC

Bagikan Berita Ini

Komentar

Apakah Anda ingin mendapatkan layanan berkualitas kami untuk Investasi?