Rupiah menunjukkan kekuatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) setelah Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga acuan sebesar 25 bps dan penurunan Fed Funds Rate (FFR) sebanyak 50 bps mendapat respon positif dari pasar keuangan global, termasuk Indonesia. Seperti yang dilansir oleh CNBC, rupiah menguat 1,02% menjadi Rp15.075/US$ pada hari ini, Jumat (20/9). Ini sejalan dengan penguatan sehari sebelumnya (19/9) sebesar 0,65%.
Kepala Treasury Bank BJB, Jhon Habibie Barus, menilai bahwa keputusan BI untuk menurunkan BI Rate adalah tepat, mengingat data ekonomi dalam negeri yang positif termasuk inflasi dan posisi rupiah, serta kebijakan The Fed yang semakin bearish. Dia juga memprediksi bahwa jika sentimen positif ini berlanjut dan The Fed terus menurunkan FFR, maka indeks dolar bisa turun di bawah level 100 sehingga rupiah berpotensi mencapai Rp14.700-Rp14.800 per dolar AS.
"Kami berharap ada peluang bagi rupiah untuk menembus Rp 15.000, terutama karena pasar sangat positif," kata Barus, dalam Squawk Box, CNBC Indonesia, Jumat (20/9).
Sementara itu, Ekonom INDEF, M. Rizal Taufikurrahman, menyatakan bahwa keputusan BI dan The Fed menjadi katalis positif bagi peningkatan aliran modal asing ke Indonesia, yang mendorong penguatan Rupiah. Dia memproyeksikan bahwa mata uang Garuda berpotensi terus menguat hingga mencapai posisi Rp15.000 per Dolar hingga akhir tahun 2024.
Bagikan Berita Ini