Rupiah mengalami penguatan terhadap dolar AS saat pasar menantikan pemotongan suku bunga oleh The Federal Reserve. Pada awal perdagangan hari Senin (17/9), rupiah tercatat menguat 0,32% menjadi Rp15.345/US$. Indeks dolar AS (DXY) juga terpantau turun 0,08% menjadi 100,68, mendekati titik terendah sejak Desember 2023.
Pada Kamis (19/9), The Fed akan merilis hasil Federal Open Meeting Committee (FOMC) yang mencakup suku bunga acuan dan Summary Economic Projections (SEP). Pasar sepenuhnya mengharapkan The Fed akan memangkas suku bunga acuannya antara 25 basis poin (bps) atau 50 bps.
Hal ini didasarkan pada data inflasi produsen dan konsumen yang lambat, inflasi PCE yang rendah, dan tingkat pengangguran AS yang cukup tinggi. Data inflasi konsumen AS periode Agustus menunjukkan pertumbuhan 2,5% tahunan, lebih baik dari ekspektasi.
Sementara itu, Indeks harga produsen (PPI) naik 0,2% pada Agustus, lebih tinggi dari perkiraan. Klaim awal untuk tunjangan pengangguran mingguan AS naik 2.000 menjadi 230.000. Peter Tuz, presiden Chase Investment Counsel, berpendapat bahwa data ini cukup meyakinkan untuk The Fed bisa pivot secara lebih konservatif. Saat ini, suku bunga The Fed berada di level 5,25-5,50%. Jika The Fed memangkas suku bunganya, hal ini akan disambut positif oleh pasar.
Bagikan Berita Ini