• company.vifxjogja@gmail.com
  • (0274) 2924181
News Photo

Penurunan Nilai Tukar Rupiah di Tengah Sidang Tahunan dan Nota Keuangan

Penurunan ini terjadi di tengah berlangsungnya sidang tahunan dan penyampaian nota keuangan. Menurut CNBC, rupiah dibuka dengan penurunan sebesar 0,32% menjadi Rp15.740/US$ pada hari Jumat (16/8). Ini merupakan kelanjutan dari depresiasi yang terjadi sehari sebelumnya sebesar 0,09%.

Sementara itu, DXY pada pukul 08:48 WIB juga mengalami penurunan tipis sebesar 0,02% menjadi 102,95. Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan posisi sehari sebelumnya yang berada di angka 102,98.

Pergerakan rupiah ini berlangsung bersamaan dengan sidang tahunan yang diadakan di gedung DPR-MPR, Jakarta. Agenda utama sidang ini adalah Sidang Tahunan MPR RI, Sidang Bersama DPR RI - DPD RI, dan Sidang Paripurna DPR RI dalam rangka penyampaian Rancangan Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2025 (RUU APBN TA 2025).

Semua mata pelaku pasar hari ini tertuju pada rilis Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2025 (RAPBN 2025) yang akan menjadi arah bagi pembangunan Indonesia ke depan. Presiden Jokowi akan memberikan pidato pembuka yang akan mengungkapkan target makro ekonomi mulai dari pertumbuhan, inflasi, nilai tukar rupiah, lifting minyak mentah dan gas, serta harga minyak mentah Indonesia/ICP untuk 2025.

Nota Keuangan ini sangat penting karena RAPBN 2025 akan menjadi APBN pertama pemerintahan baru Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka. Masyarakat, pelaku usaha, dan investor akhirnya akan mengetahui arah kebijakan Prabowo-Gibran, mulai dari belanja hingga pendapatan negara.

Berbeda dengan presiden-presiden sebelumnya di mana RAPBN untuk presiden berikutnya biasanya hanya bersifat baseline, RAPBN 2025 diperkirakan sudah merumuskan kebijakan Prabowo. Tim Prabowo terlibat langsung dalam pembuatan RAPBN 2025.

RAPBN 2025 juga sangat dinanti karena akan menjelaskan arah kebijakan pembiayaan tahun 2025. Selama ini beredar kabar bahwa Prabowo akan menargetkan defisit anggaran tinggi sehingga kebutuhan pembiayaan akan meningkat. Hal ini tentu akan memengaruhi pasar keuangan domestik termasuk nilai tukar rupiah ke depannya.

CNBC

Bagikan Berita Ini

Komentar

Apakah Anda ingin mendapatkan layanan berkualitas kami untuk Investasi?