Setelah mengalami penurunan selama tiga hari berturut-turut, harga minyak kini mulai menunjukkan peningkatan. Penurunan ini sebelumnya disebabkan oleh kekhawatiran akan menurunnya permintaan minyak secara global. Namun, penurunan stok minyak di Amerika Serikat dan prospek pemotongan suku bunga telah mendorong kenaikan harga minyak di awal perdagangan hari ini.
Pada hari Selasa (9/7), harga minyak mentah WTI dan Brent tercatat mengalami penurunan, masing-masing sebesar 1,12% dan 1,27%. Namun, pada pembukaan perdagangan hari Rabu (10/7), harga minyak mentah WTI dan Brent tercatat mengalami kenaikan, masing-masing sebesar 0,49% dan 0,31%.
Kenaikan harga minyak ini terjadi setelah laporan industri menunjukkan bahwa stok minyak mentah dan bahan bakar di Amerika Serikat mengalami penurunan minggu lalu, yang menunjukkan bahwa permintaan minyak mentah tetap stabil. Selain itu, prospek pemotongan suku bunga juga semakin membaik.
Sebelumnya, harga minyak mentah WTI dan Brent mengalami penurunan hingga 3% dalam tiga sesi perdagangan sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh kekhawatiran akan menurunnya permintaan minyak global dan adanya indikasi bahwa industri energi Texas aman dari Badai Beryl.
Menurut sumber pasar yang mengutip data dari American Petroleum Institute, stok minyak mentah dan bensin di Amerika Serikat mengalami penurunan minggu lalu. Hal ini menunjukkan bahwa permintaan bahan bakar musim panas tetap stabil dan mendorong pemulihan harga minyak mentah.
Kenaikan harga minyak mentah juga didukung oleh komentar dari Ketua The Federal Reserve AS, Jerome Powell, yang menunjukkan indikasi pemotongan suku bunga. Suku bunga yang lebih rendah akan mendorong pertumbuhan ekonomi dan konsumsi minyak.
Setelah komentar Powell, investor memberikan probabilitas hampir 70% pada pemotongan suku bunga The Fed pada bulan September. Selain itu, prospek harga minyak yang lebih tinggi juga didukung oleh laporan Badan Informasi Energi AS yang menunjukkan bahwa permintaan minyak global akan melampaui pasokan tahun depan.
Di Texas, beberapa perusahaan minyak dan gas telah memulai kembali operasi mereka setelah Badai Beryl. Meski beberapa fasilitas mengalami kerusakan dan listrik belum sepenuhnya pulih, dampak Beryl pada produksi minyak dan gas diperkirakan akan terbatas.
Bagikan Berita Ini