Harga emas global mengalami penurunan tajam seiring dengan peningkatan nilai dolar Amerika dan imbal hasil US Treasury. Kedua faktor tersebut meningkat seiring dengan kebijakan The Federal Reserve (The Fed) yang cenderung hawkish dan menunggu data inflasi AS pekan ini.
Data CNBC menunjukkan bahwa harga emas turun hampir 1% menjadi US$2.297 per troy ons pada perdagangan Rabu (26/6/2024), yang merupakan penurunan terbesar dalam 12 hari terakhir. Harga emas juga turun ke level US$ 2.200 per troy ons untuk pertama kalinya. Penurunan ini memperpanjang tren negatif emas menjadi dua hari berturut-turut dengan penurunan lebih dari 1,5%.
Pada hari ini, harga emas sedikit naik 0,01% menjadi US$2.298 per troy ons. Penurunan harga emas terjadi setelah dolar dan imbal hasil US Treasury meningkat. Indeks dolar turun menjadi 106,05 pada perdagangan kemarin, yang merupakan level tertinggi sejak 16 April 2024. Imbal hasil US Treasury juga naik menjadi 4,32% kemarin, yang merupakan level tertinggi dalam 10 hari terakhir.
Peningkatan nilai dolar AS dan imbal hasil US Treasury berdampak negatif pada harga emas. Dolar AS yang kuat membuat biaya konversi pembelian emas menjadi lebih mahal, sehingga mengurangi pembelian. Emas juga tidak menawarkan imbal hasil, sehingga kenaikan imbal hasil US Treasury membuat emas kurang menarik.
Pernyataan terbaru dari pejabat Federal Reserve telah mempengaruhi sentimen pasar, termasuk dolar dan imbal hasil US Treasury. Gubernur Fed Lisa Cook mengakui kemajuan dalam mengendalikan inflasi dan perlambatan pasar tenaga kerja, namun tidak merinci jadwal untuk pemangkasan suku bunga. Sementara itu, Gubernur Fed Michelle Bowman menyatakan bahwa belum saatnya untuk menurunkan suku bunga dan bahkan mengisyaratkan kemungkinan kenaikan suku bunga jika inflasi tetap tinggi.
Perkembangan ini terjadi menjelang laporan Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) yang penting, yang akan dirilis pada Jumat. Para ekonom memperkirakan perlambatan laju harga konsumen untuk bulan sebelumnya. Jika laporan PCE sesuai dengan prediksi, ini bisa menandakan bahwa inflasi bergerak menuju target yang diinginkan oleh Fed yakni 2%. Hal ini mungkin mendorong Federal Reserve untuk mempertimbangkan untuk menurunkan suku bunga acuan mulai September.
Bagikan Berita Ini