Rupiah, mata uang Indonesia, telah menunjukkan peningkatan tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) meskipun ada beberapa faktor yang seharusnya menekan nilai mata uang tersebut. Salah satu faktor tersebut adalah perilisan data inflasi produsen AS yang ternyata lebih tinggi dari perkiraan. Selain itu, pasar juga sedang menunggu rilis data inflasi konsumen AS. Namun, ada juga faktor-faktor domestik yang berperan dalam pergerakan mata uang garuda, termasuk rilis data neraca perdagangan dan Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI).
Menurut laporan dari CNBC, rupiah mengalami penguatan sebesar 0,06% di angka Rp16.080/US$ pada hari Rabu (15/5). Penguatan ini terjadi meski data inflasi harga produsen di Amerika Serikat mencatat kenaikan yang lebih tinggi dari perkiraan pada periode April 2024. Kenaikan ini didorong oleh lonjakan biaya jasa dan barang, menunjukkan bahwa tekanan inflasi tetap tinggi di awal kuartal kedua tahun ini.
Laporan yang dirilis oleh Biro Statistik Tenaga Kerja Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan bahwa Indeks Harga Produsen (PPI) naik 0,5% pada April, setelah mengalami penurunan sebesar 0,1% pada bulan Maret. Secara tahunan, PPI meningkat 2,2% pada April, naik dari 1,8% pada Maret 2024. Kenaikan ini lebih tinggi dari yang diperkirakan oleh para ekonom yang disurvei oleh Reuters, yang memperkirakan PPI hanya akan naik sebesar 0,3%.
Setelah rilis data PPI, perhatian pasar sekarang tertuju pada pengumuman data inflasi indeks harga konsumen (CPI) bulan April 2024. Sebagai catatan, inflasi Amerika Serikat mencapai 3,5% pada Maret 2024. Jika inflasi tetap tinggi dan di atas perkiraan, ini dapat memperpanjang periode pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve.
Jerome Powell, Chairman The Federal Reserve, mengungkapkan dalam acara Foreign Bankers' Association di Amsterdam, Belanda, bahwa inflasi di Amerika Serikat melandai lebih lambat dari yang diharapkan. Oleh karena itu, The Fed kemungkinan besar akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi untuk waktu yang lebih lama. Powell juga menegaskan bahwa The Fed tidak akan menaikkan suku bunga kembali tahun ini.
Pergerakan mata uang garuda juga akan dipengaruhi oleh data neraca perdagangan yang akan dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini, Rabu (15/5). Konsensus pasar memperkirakan surplus neraca perdagangan pada April 2024 akan mencapai US$3,24 miliar, menurun dibandingkan surplus pada Maret 2024 yang mencapai US$4,47 miliar.
Menurut konsensus, ekspor pada April 2024 diperkirakan tumbuh 4,36% secara tahunan, sementara impor diperkirakan naik 10,23%. Pertumbuhan ekspor dan impor ini terjadi di tengah gejolak ekonomi dan ketidakstabilan global.
Selain itu, data penting dari dalam negeri juga akan dirilis oleh Bank Indonesia pada hari ini Rabu (15/5) yang akan membahas terkait Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) periode Maret 2024. Sebelumnya, Bank Indonesia telah merilis data Utang Luar Negeri pemerintah Indonesia pada periode Februari 2024. Menurut laporan tersebut, Utang Luar Negeri pemerintah mencapai US$ 194,8 miliar, meningkat 1,3% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan ini signifikan dibandingkan dengan pertumbuhan sebelumnya yang hanya sebesar 0,1%.
Bagikan Berita Ini