Pada perdagangan Selasa (7/5/), harga minyak mentah WTI dan Brent mengalami penurunan, masing-masing sebesar 0,22% dan 0,73%, ditutup pada posisi US$78,31 dan US$82,99 per barel.
Pada pembukaan perdagangan Asia hari Rabu, harga minyak kembali turun. Hal ini dipicu oleh data dari American Petroleum Institute yang menunjukkan peningkatan stok minyak mentah dan bahan bakar di AS, indikasi dari permintaan yang lemah.
Stok minyak mentah AS tercatat naik sebanyak 509.000 barel pada pekan yang berakhir 3 Mei, berdasarkan data dari American Petroleum Institute. Persediaan bahan bakar bensin dan sulingan juga mengalami peningkatan.
Data resmi pemerintah AS mengenai stok minyak akan dirilis pada pukul 14.30 GMT. Analis yang disurvei oleh Reuters memperkirakan bahwa persediaan minyak mentah AS turun sekitar 1,1 juta barel pada pekan lalu.
Kedua benchmark tersebut mengalami penurunan ringan di sesi sebelumnya karena indikasi berkurangnya keterbatasan pasokan. EIA telah memperbarui perkiraannya untuk tahun 2024 dan kini memperkirakan bahwa produksi minyak dan cairan dunia akan tumbuh lebih besar pada tahun ini dibandingkan proyeksi sebelumnya, dan permintaan akan tumbuh lebih kecil dari perkiraan sebelumnya.
Harapan akan gencatan senjata di Gaza juga memberikan tekanan pada harga minyak dalam beberapa sesi terakhir. AS berharap perundingan gencatan senjata di Gaza dapat menyelesaikan perbedaan antara Israel dan Hamas. Direktur Badan Intelijen Pusat AS, Bill Burns, akan melakukan kunjungan ke Israel pada hari Rabu untuk melakukan pembicaraan dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dan pejabat tinggi lainnya.
Namun, ada faktor lain yang masih mempengaruhi harga minyak, yaitu penguatan dolar AS pada hari Rabu. Penguatan greenback ini mengurangi permintaan minyak dengan menjadikannya lebih mahal bagi investor yang memegang mata uang lainnya.
Bagikan Berita Ini