• company.vifxjogja@gmail.com
  • (0274) 2924181
News Photo

Pasar Respons Kenaikan Suku Bunga BI: Rupiah Masih Tertekan

Rupiah masih berada dalam tekanan terhadap dolar AS, tampaknya pasar belum sepenuhnya menghargai kenaikan suku bunga oleh Bank Indonesia (BI). Pelaku pasar saat ini akan memantau beberapa data AS yang berpotensi mempengaruhi pasar, seperti pertumbuhan ekonomi yang tidak sesuai prediksi, pasar tenaga kerja yang masih ketat, serta menunggu rilis suku bunga acuan Jepang dan data PCE AS.

Dikutip dari CNBC, rupiah pada hari Kamis (25/4) berakhir di posisi Rp16.185/US$, melemah 0,22% dalam sehari. Ini menandai berakhirnya tren penguatan dalam tiga hari berturut-turut. Pelemahan rupiah terjadi setelah BI menaikkan suku bunga dan merilis beberapa data lanjutan seperti perkembangan uang beredar.

Data uang beredar dalam arti luas (M2) menunjukkan kenaikan yang lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya. M2 pada Maret 2024 tumbuh sebesar 7,2% year on year/yoy mencapai Rp8.888,4 triliun. Hal ini terjadi seiring dengan meningkatnya aktivitas masyarakat saat Ramadan dan jelang Idul Fitri.

BI menjelaskan bahwa perkembangan tersebut didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 7,9% (yoy) dan uang kuasi sebesar 6,2% (yoy). Perkembangan M2 pada Maret 2024 terutama dipengaruhi oleh perkembangan penyaluran kredit dan tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat.

Hal ini berpotensi menaikkan angka inflasi Indonesia yang sebelumnya tumbuh sebesar 3,05% yoy pada Maret 2024. Selain itu, pelemahan rupiah ini sebenarnya tidak cukup mengejutkan karena secara historis, setelah BI menaikkan suku bunga, rupiah cenderung mengalami pelemahan.

Sejak Agustus 2022 hingga April 2024, BI sudah menaikkan suku bunga sebanyak delapan kali. Dalam delapan kali kenaikan tersebut, rupiah hanya naik sekali sehari setelahnya. Sebaliknya, rupiah cenderung melemah sehari setelah BI rate naik dalam tujuh kali kenaikan lainnya.

BI rate saat ini telah dinaikkan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6,25% dari yang sebelumnya 6%. Pada hari ini, nilai tukar rupiah tampaknya juga akan merespon beberapa data AS yang rilis semalam, seperti perekonomi AS untuk kuartal I-2024 yang hasilnya tidak sesuai ekspektasi, hingga data pasar tenaga kerja masih ketat.

Pasar kemudian akan memantau bank sentral Jepang yang kemungkinan bisa menaikkan suku bunga untuk menahan pelemahan yen, dan data lanjutan inflasi PCE AS untuk memberikan wawasan lagi terhadap prospek bank sentral atau the Fed.

CNBC

 

Bagikan Berita Ini

Komentar

Apakah Anda ingin mendapatkan layanan berkualitas kami untuk Investasi?