Fenomena yang dikenal sebagai inflasi impor, menurut Bank Indonesia, adalah peningkatan harga yang disebabkan oleh kenaikan harga barang impor dan depresiasi mata uang. Depresiasi mata uang dan kenaikan harga barang impor mengakibatkan importir harus mengeluarkan biaya lebih besar saat mengimpor produk, termasuk bahan baku dan bahan penolong untuk industri domestik.
Andry, dalam wawancaranya dengan CNBC Indonesia pada Rabu (3/4), menyatakan bahwa inflasi impor mungkin akan terjadi, namun mungkin akan ada jeda waktu yang bervariasi, tergantung pada perjanjian perdagangan sebelumnya. Dampak paling buruk dari penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS adalah peningkatan harga jual barang-barang domestik, akibat biaya produksi barang yang tinggi.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2024 menunjukkan bahwa impor bahan baku/penolong mendominasi nilai impor di Indonesia, dengan proporsi mencapai 72,47% dari total impor sebesar US$ 13,30 miliar. Dalam nilai, mencapai US$ 26,76 miliar.
Andry menegaskan bahwa daya beli akan terganggu jika produk yang bahan bakunya berasal dari impor atau mungkin terkait dengan ekspansi barang modal yang sebagian besar impor akan menjadi mahal.
Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) Teuku Riefky menyatakan hal yang sama. Menurutnya, tekanan harga akibat depresiasi mata uang akan terjadi jika efeknya berlangsung dalam jangka waktu yang lama.
Riefky menilai bahwa kenaikan harga barang-barang impor berpotensi terjadi jika penurunan nilai tukar rupiah berlangsung dalam jangka waktu yang panjang, seperti dalam hitungan bulan. Atau jika persentase depresiasinya sangat besar hingga ratusan persen seperti saat krisis 1998.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini mengalami penurunan, meskipun indeks dolar cenderung stabil. Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka melemah 0,41% ke posisi Rp 15.910/US$ dari penutupan perdagangan sebelumnya RP 15.895/US$.
Indeks dollar DXY ditutup di posisi 104,816, lebih rendah dibandingkan hari sebelumnya di posisi 105,019. Pada pagi hari ini, indeks dolar terpantau turun tipis 0,05% ke 104,76.
Data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor Bank Indonesia menunjukkan bahwa rupiah telah dua hari ini bergerak di kisaran atas Rp 15.900 per dolar AS. Pada 2 April 2024, rupiah diperdagangkan antar bank rata-rata di level Rp 15.934 dan pada 1 April 2024 sebesar Rp 15.909.
Pada akhir Maret 2024, masih di kisaran Rp 15.873 per dolar AS, naik pesat dari level saat 1 Maret 2024 sebesar Rp 15.696. Bahkan pada awal Januari 2024 rupiah masih bertengger di level Rp 15.473 meskipun saat 1 Februari 2024 telah di level Rp 15.775.
Bagikan Berita Ini