Emas memulai perdagangan dengan tren positif, sejalan dengan pertemuan The Federal Reserve (The Fed), bank sentral Amerika Serikat (AS), yang sedang menetapkan kebijakan suku bunga mereka.
Dilansir dari CNBC, pada hari Selasa (19/3), harga emas di pasar spot turun sebesar 0,13% menjadi US$2.157,22 per troy ons. Namun, pada Rabu (20/3) pukul 06:20 WIB, harga emas di pasar spot naik sebesar 0,015% menjadi US$2.157,54 per troy ons.
Harga emas mengalami perubahan dalam tiga hari perdagangan terakhir. Turun pada hari Jumat, naik pada hari Senin, dan turun lagi pada hari Selasa.
Penurunan harga emas pada hari Selasa disebabkan oleh penguatan dolar AS, tepat sehari sebelum The Fed memberikan indikasi tentang suku bunga di akhir rapat kebijakan dua hari mereka.
The Fed dijadwalkan untuk mengumumkan kebijakan mereka hari ini atau Kamis dini hari waktu Indonesia.
Harga emas sangat sensitif terhadap perubahan suku bunga AS. Jika suku bunga AS naik, dolar AS dan imbal hasil US Treasury akan menguat. Ini tidak menguntungkan emas karena dolar yang kuat membuat emas lebih sulit untuk dibeli, sehingga permintaan menurun.
Emas juga tidak memberikan imbal hasil, sehingga kenaikan imbal hasil US Treasury membuat emas kurang menarik. Namun, suku bunga yang lebih rendah akan melemahkan dolar AS dan imbal hasil US Treasury, yang dapat menurunkan biaya kesempatan memegang emas. Sehingga, emas menjadi lebih menarik untuk transaksi.
Meski The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga stabil pada hari Rabu, pasar menunggu komentar dari Ketua The Fed Jerome Powell tentang prospek suku bunga terbarunya.
Bank Sentral Jepang (BoJ) juga baru saja mengakhiri kebijakan suku bunga negatif yang telah berlangsung selama delapan tahun dan ini menjadi kenaikan pertama dalam 17 tahun terakhir. Suku bunga BoJ naik 10 basis poin (bp) menjadi kisaran 0%-0,1%, dari sebelumnya di level -0,1%, level terendah dalam delapan tahun terakhir.
Secara keseluruhan, harga emas mengalami fluktuasi karena berbagai faktor seperti kebijakan suku bunga bank sentral AS, pergerakan dolar AS, dan kondisi ekonomi global
Bagikan Berita Ini